CERPEN: FOUR-LEAF CLOVER

Sumber: Google (gambar)

 🍀

Aroma masakan yang menguar dari dapur membuat keempat anak Lily segera bergegas turun dari kamarnya masing-masing. Selain karena ingin segera menyantap masakan ibunya, mereka juga tidak mau terlambat memulai aktivitas.

“Aromanya menggugah selera sekali, Mi.” Esa sudah berdiri di samping Lily yang masih sibuk dengan wajannya.

“Abang jangan dekat-dekat, wajannya panas, sayang.”

Sementara itu, Kian, Juan, dan Sean sudah mengambil posisi di meja makan. Hari ini mereka semua ada kegiatan di luar dan harus segera berangkat.

“Mami masak apa?” tanya Juan

“Mami masak nasi goreng, ada roti bakar juga, Juju mau sarapan pakai apa, sayang?”

“Nasi goreng aja, Mi,” jawab Juan.

“Adek mau nasi goreng juga, Mi,” timpal Sean cepat.

“Sini Iki bantu, Mi.” Kian berjalan mendekati ibunya.

“Iki siapin roti bakar di meja, ya. Tadi Abang katanya mau sarapan pakai roti bakar aja,” Lily mengintruksikan Kian. “Abang tolong buatin cokelat hangat.” Lily juga meminta Esa mengambil bagian.

“Siap, Mami!” Kian dan Esa menjawab sangat kompak dengan gaya seperti prajurit yang mendapat perintah dari komandan. Hal kecil itu membuat hati Lily menghangat dan senyumnya tak bisa ditahan.

Selepas sarapan, keempat anak Lily kemudian berpamitan. Esa ada persiapan event pameran untuk acara kampusnya, sementara Kian mengekori kakaknya karena ia juga bagian dari acara tersebut. Juan dan Sean juga berangkat bersama ke acara bedah buku yang diadakan sekolahnya, menyisakan Lily sendiri di rumah. Lily selalu mengajari anak-anaknya tentang kedisiplinan dan tanggung jawab, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang teratur dan baik.

Semenjak kepergian suaminya, Lily hanya memiliki anak-anaknya sebagai alasan untuk bertahan. Meski tak kurang secara ekonomi, sebab suaminya meninggalkan beberapa properti, mengurus anak sendirian tetap cukup berat bagi Lily. Rasa kosong kadang datang menghampiri di sela-sela kegiatannya, apalagi ketika anak-anaknya sedang sibuk di luar rumah.

Kini, Lily hanya menghabiskan waktu untuk menulis dan mengurus bisnisnya. Sesekali ia juga menghadiri pameran seni dan mengikuti kegiatan volunteer. Meski sudah menjadi seorang ibu, ia kerap aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial di sekitarnya. Kesenangannya akan seni dan pengabdian sejak masih gadis masih ia bawa sampai sekarang. Sebab suaminya selalu mendukung keputusan Lily.

“Papi itu orang yang seperti apa, Mi?”

Pertanyaan Sean malam itu kembali terngiang di benak Lily. Saat suaminya meninggal, Sean masih di dalam kandungan sehingga ia tak sempat merasakan kasih sayang ayahnya. Ah, bahkan Juan pun belum genap setahun, Kian juga baru berusia sekitar empat tahun, dan Esa lima tahun. Usia yang masih sangat kecil untuk mengerti arti kehilangan.

“Papi orang yang terlihat dingin di luar, namun begitu hangat di dalam. Orang-orang sering salah menafsirkan, padahal Papi adalah orang yang paling pengertian dan perhatian di hidup Mami. Sifat Papi yang seperti itu seringkali Mami lihat ada di Juju.” Lily membetulkan posisi duduknya agar tak mengganggu kenyaman Sean yang sedang berbaring di pahanya.

“Seni dan musik adalah dua kesukaan Papi yang juga adalah kesukaan Mami. Melihat Iki yang sering menghabiskan waktu untuk melukis dan Abang yang kerap menyanyikan lagu untuk Mami membuat sosok Papi selalu hadir di rumah ini.” Lily terus membicarakan suaminya dengan ekspresi yang teduh, sebab yang ia ingat sekarang hanyalah kenangan indah.

“Papi juga suka main basket,” lanjut Lily.

“Sama kayak Iki dong, Mi.” Kian tampak antusias mengetahui satu kemiripan lagi antara dirinya dengan ayahnya. Setelah reaksi itu, Kian kembali menyenderkan kepalanya di bahu Lily.

“Papi juga suka americano seperti Abang.” Satu kalimat tersebut berhasil mengukir segaris senyum di wajah Esa.

“Papi sering menghabiskan waktu dengan membaca ketika sedang libur bekerja. Papi juga selalu mengajak Mami ke toko buku dan piknik di taman belakang rumah hanya untuk sekadar membahas buku yang sudah Papi baca. Jadi, ketika Mami sedang mendiskusikan buku bersama Adek, Mami selalu ingat Papi,” mata Lily mulai berkaca-kaca.

Melihat hal itu, Juan bangkit lalu memeluk ibunya, Esa juga sama. Tindakan spontan dari kakaknya membuat Sean reflek bangun dan Kian juga bereaksi. Kini kehangatan itu mencuat dari potongan-potongan jiwa suami Lilyanak lelakinya.

Percakapan malam itu diakhiri dengan satu kalimat tulus dari Lily, “Kalian adalah bentuk dari rasa cinta Papi kepada Mami. Kalian adalah bagian dari diri Papi yang terus ada di sisi Mami. Kalian adalah kekuatan dan harta paling berharga yang Mami miliki. Maka apa pun yang terjadi nanti, Mami akan selalu ada di sisi kalian.”

Tring!

Satu notifikasi membawa Lily kembali ke dunia nyata. Sebuah pesan masuk dari sahabatnya yang mengingatkan acara mereka hari ini. Lily kemudian bergegas ke kamar untuk bersiap-siap. Pagi itu ia akan melakukan penanaman pohon dan sorenya akan menghadiri acara reuni teman SMA-nya. Sebelum berangkat, ia sempat mengirim pesan ke grup WhatsApp bersama anak-anaknya.

“Hari ini mami ada acara, kemungkinan akan pulang malam. Jangan lupa makan ya, sayang. Kalau ada apa-apa, segera telepon. Mami pergi dulu daaahhh~”

“Take care on the way mamiku sayang!” balas Esa.

“Have fun mamiku cintaku,” pesan khas dari Kian.

Setelah membaca balasan dari Esa dan Kian, Lily terpaku sejenak melihat gambar manis anak-anaknya di profil grup yang bertajuk Mami’s Boyz itu. Lily sangat bersyukur memiliki empat pangeran yang mewarnai hidupnya.

Perpindahan matahari menuju arah barat terasa sangat cepat. Kini rembulan mengambil alih tugasnya untuk menggantikan siang. Malam itu cahaya bulan terasa lebih indah dari biasanya. Lily yang sudah tak sabar bertemu anak-anaknya mulai mempercepat lajunya. Seharian ini ia tidak melihat buah hatinya. Baru kali ini juga mereka tidak mengirim pap setiap sedang melakukan sesuatu. Pesan-pesan Lily juga hanya dibalas seadanya. Mungkin mereka masih sibuk, pikir Lily.

Sementara Esa dan ketiga adiknya terlihat berusaha mengatur ekspresinya agar tak menangis di hari yang spesial ini. Tulisan Lily yang lupa ia tutup semalam membuat mereka terenyuh. Mereka tak sengaja membacanya ketika sedang menyiapkan kejutan di kamar ibunya.

Esa Sagara, anak sulung mami yang dewasa. Seperti laut yang menjadi awal mula kehidupan, Esa adalah harapan yang memberikan ketenangan dan kekuatan bagi Mami. Sebagai sulung, dia adalah tempat berlabuh bagi adik-adiknya saat mereka kehilangan arah. Dia adalah harapan yang memastikan bahwa keluarga ini akan selalu punya ruang untuk memaafkan dan memulai kembali. Seperti namanya, ia memiliki keluasan hati seperti samudra yang tenang.

Kian Arutala, cahaya rembulan dalam gelapnya kehidupan. Anak mami yang selalu menanamkan keyakinan bahwa sesulit apa pun hidup ini, akan selalu ada kebahagiaan di depan sana. Dia adalah penjaga mimpi. Saat kakak atau adiknya ragu, Kian adalah sosok yang mengingatkan mereka untuk tetap mendongak ke arah langit, memandang masa depan dengan keyakinan yang tinggi.

Juan Nayanika, cintanya Mami yang hangat. Meski tak banyak bersuara, kasihnya selalu terpancar melalui matanya yang tulus dan meneduhkan. Dia adalah penengah dan perangkul. Cinta paling jujur bukan berasal dari kata, tapi dari caranya memandang seseorang dengan penuh empati. Ia hanya terlihat diam, namun ia adalah representasi rasa yang paling peka.

Aksara Sean, helaian terakhir yang menyempurnakan cintanya Mami. Kehadiran Sean adalah keberuntungan langka, seperti menemukan tulisan indah yang menjelaskan makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia adalah hadiah yang merangkum semua memori manis. Dia membawa keceriaan dan rasa syukur yang romantis.

Semanggi berdaun empat adalah gambaran utuh dari anak-anak lelakiku yang lembut dan pemberani. Mereka adalah bentuk kasih sayang semesta yang melambangkan harapan, keyakinan, kasih sayang, dan keberuntungan.

Sagara yang luas, Arutala yang bersinar, Nayanika yang hangat, dan Aksara yang abadi adalah lukisan paling berharga yang pernah Mami miliki.

Rangkaian kalimat itu sejenak membuat Esa, Kian, Juan, dan Sean berhenti dari kesibukannya. Sampai suara pintu terbuka membuat mereka terkejut.

“Loh, kenapa semuanya ada di kamar Mami? Lily tampak kebingungan.

Sean mundur tanpa menjawab pertanyaan Lily, lalu ia mengeluarkan kue yang berukuran sedang dengan tulisan Happy Birthday Mami, lengkap dengan lilinnya. Lily baru ingat bahwa hari itu adalah harinya. Setelah mendengar penjelasan anak-anaknya, ternyata sahabatnya juga ikut andil dalam rencana ini, sehingga ketika tadi mereka seharian bersama, ia tidak membahas tentang ulang tahun.

“Selamat ulang tahun, Mi. Terima kasih sudah menjadi mami yang sempurna untuk kami,” Esa mengawali perayaan sederhana itu.

“Iki ada buat lukisan spesial untuk Mami.” Kian menyerahkan sebuah kanvas berukuran besar yang menampilkan sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia. Ternyata lukisan itu adalah potret Lily bersama suaminya ketika sedang piknik dulu.

“Ini untuk Mami.” Juan juga tampak menyodorkan sesuatu.

“Apa ini, sayang?” tanya Lily penasaran.

“Coba Mami buka,” Juan memberi intruksi.

“Waaaahhh, cantik sekali. Kapan kalian membuat ini?” Mata Lily tampak berbinar saat membuka album yang tadi diserahkan Juan. Di sampulnya tertulis Langit untuk Mami.  Benda persegi panjang yang menampilkan gambar-gambar langit yang dikumpulkan keempat anaknya selama setahun terakhir.

“Mami pernah bilang mau baca buku No Longer Human karya Osamu Dazai, kan, jadi Adek belikan ini untuk Mami.” Sean mengeluarkan hadiahnya juga.

“Mi, kita duduk dulu, yuk. Abang punya sebuah lagu yang Abang tulis khusus untuk Mami.” Esa mengambil gitarnya. “Dengar Abang nyanyi sambil makan kue.”

Malam itu menjadi malam yang paling membahagiakan untuk Lily. Ia tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Tangisnya pecah saat mendengar bait pertama lagu yang dinyanyikan Esa. Kau adalah keajaiban yang memberi kami kehidupan. Sementara Esa bernyanyi, Kian menyuapkan kue untuk Lily, lalu Juan dan Sean menggenggam erat tangan Lily sembari bersandar padanya.

“Kapan Abang nulis lagu ini?” tanya Lily saat Esa bergabung bersama mereka.

“Beberapa bulan lalu, di hari ulang tahun Papi,” jelas Esa.

Lagi-lagi Lily dibuat speechless dengan perlakuan manis putranya, “Siapa deh yang ngajarin kalian romantis begini?”

“Jelas Mami dooong!” jawab mereka serempak.

“Tadi Mami pergi ke acara reuni bareng Tante Disthi?” tanya Sean.

Lily membalas pertanyaan Sean dengan anggukan. Malam itu, anak-anak Lily tidur di kamarnya. Mereka tidak mau beranjak satu inci pun. Katanya, mereka akan menemani ibunya menyambut pagi yang baru.

“Tuhan, Engkau telah mengambil separuh jiwaku, maka tolong jangan Kau ambil mereka juga dari sisiku. Titipkan bahagia dalam setiap langkah anak-anakku.” Lily membetulkan selimut mereka, mengusap kepala mereka, dan mendaratkan sebuah kecupan penuh kasih di kening anak-anaknya.

“Selamat tidur, sayang.”