SHARING: SISI TERGELAP SURGA


"Di perjalanan panjang yang sering kita sebut dengan 'hidup' ini, kita hanya harus tabah dalam menjalaninya." (Hal. 225)

💡💡💡

Identitas Buku
Judul: Sisi Tergelap Surga
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2023
Tebal: 304 halaman

Blurb
Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan.

Pemulung, pengamen, pramuria* yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis tergerus kejinya ibu kota.

Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari.

Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta...

•••

*Pramuria adalah istilah eufemisme untuk wanita yang dibayar untuk menghibur pelanggan di bar, klub malam, atau tempat hiburan serupa, sering juga disebut sebagai gadis bar atau nightclub hostess.

💡💡💡


Sekilas Tentang Buku Ini
Pada bagian Prolog: Panembrama Kehidupan, diperkenalkan beberapa tokoh yang menjalani kehidupan yang keras di bagian tergelap kota Jakarta, kampung kumuh yang berbanding terbalik dari megahnya kota ini.

Pada lembar kedua dari prolog ini, pembaca langsung disuguhkan dengan narasi yang sedikit membuat terkejut.

"Di perkampungan kumuh di pinggir kota itu, menjadi perawan tua berarti menjadi orang paling haram dan hina. Persetan dengan gelar, perempuan itu tugasnya cuma untuk mencetak keturunan. Siapa yang membuahi, tidak ada yang peduli. Kalau kamu diperkosa, kamu yang salah. Perempuan hampir mirip dengan babu yang bekerja di rumah."

Yuyun, seorang perempuan yang terpaksa menikah dengan orang yang tak ia kenal sebelumnya demi menutup mulut orang-orang di kampungnya. 

Rini, mantan teman mengajinya Yuyun, diperkenalkan dengan sebuah pesan singkat di ponselnya yang ia terima setelah mengobrol dengan Yuyun malam itu.

"Rin, slot short time malem ini kosong, nggak? Dateng ke hotel yang di seberang taman kota, bisa?"

Syamsuar Hasim, seorang pedagang nasi goreng yang terus berjuang untuk hidupnya. Ketika dagangannya terlampau sepi, ia kadang membatin dan bertanya pada dirinya apakah lebih baik ia kembali menjadi bandar togel atau tidak.

Kuncahyo, pelanggan tetap Syamsuar, seorang OB di sebuah mall yang hidup pas-pasan dengan gajinya.

Danang, lelaki paling tampan di kampung ini, seseorang yang pulang dengan wajah lebam setelah dirampok sepulang kerja.

Esih, anak Pak Haji Harun, bunga yang diidam-idamkan seluruh pemuda kampung. Gadis cantik yang tumbuh besar di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi agama.

Brian, seorang pekerja di biro travel sebelah stasiun kereta. Seorang lelaki yang digambarkan dengan tampilannya menggunakan kemeja lusuh yang mulai menguning serta motor bututnya.

Gofar, seorang pencuri motor yang menghindari kejaran masa. Peduli setan dengan keselamatan dan neraka jahanam yang kelak akan ia huni. Yang penting obat buat Ibu bulan ini bisa kebeli. Katanya.

Dewi, seorang istri yang sudah terbiasa dengan lebam di tubuhnya, seorang korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

Tomi, preman pemegang terminal yang juga merupakan suaminya Dewi. Momok hidup yang begitu ditakuti oleh semua orang.

Karyo, Jawa, dan Pulung. Tiga remaja penghuni pos ronda yang dipertemukan oleh nasib yang tidak terlalu bagus.

Juleha, seorang ibu yang bekerja sebagai PSK (memiliki seorang anak bernama Ujang yang sering dititip di rumah Sobirin dan Nunung).

Sobirin & Nunung, pasangan suami istri penjual tahu yang terus membawa duka sebab sebuah kehilangan yang menimpa mereka.

Resti, seorang ibu yang terkadang untuk makan saja susah, ditambah lagi anak sulungnya yang divonis TBC oleh dokter di puskesmas.

Ina, Erlin, Ratih, adalah tiga bersaudari yang juga berjuang dengan hidupnya. Ina, si anak kecil dengan seragam putih merah, membawa termos besar berisi es lilin yang akan dititipkan ke tukang sayur. Erlin, gadis cantik kelas 2 SMP yang tangannya penuh oleh tampah berisi kue-kue basah yang akan ia jual selama perjalanan menuju sekolah. Lalu, Ratih, sang kakak tertua, seorang gadis SMA yang selalu berjalan kaki sejauh lima kilometer untuk menempuh sekolah. Mereka adalah anak dari seorang duda yang bekerja sebagai badut ayam keliling.

Tante Batak, begitu orang-orang menyebutnya. Seseorang yang selalu diam dan membeli hal yang itu-itu saja: satu plastik ikan pindang. Entah siapa namanya, ia terkenal sebagai orang yang selalu memberi makan kucing-kucing liar di kampung sini. Namun, hal ini justru membuat orang lain kesal. Sebab semakin hari semakin banyak kucing liar di kampung tersebut, begitu juga kotoran kucing semakin banyak memenuhi tempat yang gelap itu.

Tikno, karakter yang muncul di bagian-bagian akhir. Seorang anak yang kecewa karena bapaknya tak meninggalkan pesan apa pun untuk dirinya sebelum meninggal.

Bu RT (ibu Tikno) yang begitu sabar menunggu anaknya kembali seperti semula. Pak RT (bapak Tikno), yang diceritakan begitu pemberani untuk memberantas kejahatan di kampungnya dan membela serta menunjukkan jalan untuk orang lain.

•••

Penjelasan singkat itu hanya permukaan saja dari rumitnya kehidupan masing-masing tokoh. Menyelami kisah mereka membuat saya mengerti akan alasan atas semua hal yang mereka lakukan.

Setiap tokoh memiliki kisahnya masing-masing. Latar belakang keseluruhan karakter diceritakan dengan baik dalam beberapa bagian dan semuanya memberi pembelajaran dan makna yang dalam.

Bahwa kadangkala hidup tak selalu berjalan mulus meski kita sudah berjuang mati-matian. Cobaan demi cobaan datang satu persatu untuk menguji seberapa kuat mereka bertahan. 

Dan sebuah kesimpulan yang bisa saya tarik sebagai akar masalah dari keseluruhan kisah ini adalah kemiskinan. Dunia begitu kejam kepada orang-orang yang berjuang untuk menyambung hidup sehari lagi. Dunia tak memberi mereka kesempatan bernapas, boroknya merongrong sampai ke setiap sel dalam tubuh mereka sehingga mati adalah pilihan terbaik meski juga tak baik sebab harga tanah kuburan begitu mahal.

Begitu ngerinya kemiskinan merenggut mimpi-mimpi manusia, merampas harapan, dan membunuh harga diri mereka. Lingkaran setan yang seperti tiada akhir.

•••

"Tak selamanya yang menghancurkan hidup seseorang itu harus datang dari hal-hal yang besar. Terkadang ia lahir dari hal yang tampaknya sepele. Sesepele cibiran orang pada wanita-wanita yang tak kunjung menikah." (Hal. 16)

Narasi itu rasanya paling pas untuk Yuyun dan Resti yang menggadai masa gadisnya demi sebuah peruntungan yang disebut pernikahan. Hal itu terjadi karena omongan masyarakat yang suka ikut campur. Namun, dari orang-orang yang jahat itu, tak ayal orang terdekat lah yang paling banyak menyumbang desakan.

"Kalau dengan beragama lantas bikin kamu merasa lebih suci dan lebih tinggi derajatnya dengan orang lain, sosok siapa yang kamu teladani selama ini? Siapa yang kamu sembah selama ini? Egomu?" (Hal. 72)

Perkataan Juleha saat membela juniornya dalam sebuah adu mulut. Kalimat yang juga cocok untuk tokoh Esih dalam buku ini. Tanpa ada yang tahu, ia juga menyimpan sebuah rahasia besar sampai akhir. 

"Terkadang memang orang yang paling mampu berbagi itu justru datang dari orang-orang yang tidak terlalu punya." (Hal. 88)

Kalimat yang hangat, sehangat cinta kasih seorang ayah yang berjuang demi ketiga anak-anaknya. Juga seperti cinta seorang anak lelaki yang begitu melimpah untuk ibunya yang kadang kasar terhadap dirinya.

"Sebab, salah satu cara terbaik untuk bisa menikmati hidup adalah dengan memiliki keberanian untuk meninggalkan apa yang sudah semestinya ditinggalkan." (Hal. 107)

•••

Buku ini mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang terlalu cepat. Kita tidak pernah tahu akhir seperti apa yang menemui mereka. Ada yang terpaksa melakukan kejahatan dan berujung bertaubat, ada pula yang terlihat agamis namun berakhir dengan membawa dosa sebelum sempat menyelesaikannya.


💡💡💡

Pengalaman Membaca
Sebelum membagikan pengalaman saya, rasanya yang paling pertama ingin saya sarankan adalah tentang target pembaca. Buku ini selayaknya dibaca oleh orang yang sudah cukup dewasa dan cukup matang untuk berpikir. Sebab, rasanya banyak sekali pembahasan tentang seksual yang dituliskan dengan jelas dan gamblang. Menjadi pilihan yang tepat waktu itu saat saya melarang siswa saya membuka buku ini. Selain itu, banyak umpatan dan kata-kata kasar yang digunakan dalam menghidupkan alurnya. Seperti semua kata kasar yang kita dengar di sekitar kita terangkum dalam lembaran-lembarannya.

Setelah membaca cerita seluruh tokoh dalam kisah ini, sepertinya saya paham kenapa judul buku ini begitu nyentrik. Jujur saja, saya membeli buku ini karena melihat judulnya yang sangat provokatif. Bagaimana bisa surga memiliki sisi gelap? Sedangkan sependek pengetahuan saya, surga adalah nikmat yang tiada bandingannya. Hal itu yang terlintas di benak saya sebelum membaca blurb-nya.

Apa yang kalian pikirkan pertama kali ketika membaca judul buku ini? Apakah sama dengan saya?

Lalu pertanyaan saya terjawab di akhir bab prolog tersebut.

"Di megahnya kota metropolitan yang sering mereka sebut surga itu, terdapat sebuah sisi gelap perkampungan kota yang diisi orang-orang yang serupa tikus got di musim penghujan. Serupa borok di tubuh yang sehat. Atau serupa selulit di paha yang selalu ingin orang tutupi. Sisi para manusia figuran yang terbuang. Yang kehilangan semangat juang. Yang tertindas. Yang hanya bisa pasrah."

Sepanjang membaca, saya tidak tahu sudah berapa kali saya shock dan speechless dengan kejadian-kejadian yang dialami tokoh-tokohnya.

Setelah bagian pelecehan yang dialami Juleha yang membuat saya meringis, ternyata kisah Karyo (remaja yang bekerja sebagai manusia silver) cukup membuat saya terhenyak. Lalu, kisah Rini juga tak kalah menyedihkan. Bahkan ia menjadi pelacur karena keluarga terdekatnya.

Bagian paling favorit untuk saya adalah kisah "Danang dan Esih". Siapa sangka kalimat-kalimat luar biasa itu justru datang dari tokoh paling plot twist di kisah ini. Ya, bagi saya, tokoh Danang adalah tokoh yang membuat saya terdiam sejenak.

"Tapi satu yang yey harus ngerti, di hadapan Tuhan, cuma Tuhan sendiri yang berhak nentuin yey benar atau salah." (Sus Dania, hal. 135)

"Sebab bukankah kita semua sadar, bahwa Tuhan adalah seadil-adilnya hakim di seluruh dunia akhirat?" Maka biarlah Tuhan saja yang menghukum kami. Jangan kalian. Sebab, kalian, aku, dan mereka semua adalah sama. Manusia yang berdosa." (Danang, hal. 137).

Lalu, tokoh paling jahanam dalam buku ini adalah Pak Lurah yang culas, zalim, dan suka main perempuan. Selain seluruh masyarakat di kampung tersebut, ada tiga tokoh yang terluka dengan amat sangat dalam atas perlakuannya. Pada bagian ini pun, saya membenci statement istrinya, "nanti jika kamu sudah menikah, kamu akan tahu kenapa saya bertahan". GILAAAA! Sampai akhir pun, saya tidak mengerti. Hampir sama dengan Dewi yang terus bertahan dipukuli. Tidak ada yang penjelasan yang masuk akal selain karena 'anak' dan 'cinta'.

Beberapa tokoh yang saya tidak suka adalah ibunya Resti yang tidak terlalu dijelaskan secara rinci namun cukup membuat saya kesal. Selanjutnya adalah suaminya Resti yang berlindung dengan kata 'rezeki tak akan kemana' tapi dia sendiri tidak mencarinya. Karakter paling bodoh menurut saya. Malang sekali nasib Resti harus bertemu dua orang paling menyebalkan.

Cerita yang menyedihkan? Sepertinya semuanya sama, sama-sama menyedihkan. Tapi bagi saya bagian yang paling menguras air mata adalah kisah Gofar. Meski ada sedikit adegan yang membuat saya merutuki Gofar, tapi setelahnya cukup membuat saya menangis.

Kisah paling haru dan menyimpan segudang pembelajaran tentang ikhlas, sabar, berjuang, tetap di jalan Tuhan, adalah kisah Pak Badut Ayam dan juga ketiga anaknya.

Kisah tokoh yang lain pun sama menariknya untuk dibaca. Tidak ada yang jomplang. Ada plot twist lain selain kisah Danang.

•••

Meski terlihat seperti kisah yang berbeda, masing-masing, tetapi sejatinya seluruh tokoh dalam buku ini tersambung oleh sebuah benang merah. Tiap perpindahan bab menjawab pertanyaan yang tertinggal di bab sebelumnya.

Secara keseluruhan, buku ini bagus sekali untuk dibaca. Sebuah pandangan baru tentang kehidupan yang mungkin tidak pernah kita duga atau tidak pernah kita lihat. Sebagai seseorang yang tinggal di desa yang tenang, saya merasa mendapat perspektif baru dari kisah hidup orang lain. Meski ini adalah kisah fiksi, namun penulisnya menjelaskan bahwa kisah-kisah ini menggambarkan apa yang pernah ia lihat, beberapa pernah ia alami, dan bersumber dari pengalaman-pengalaman teman seperjuangannya.

Setelah mengetahui latar kisah ini adalah Jakarta, saya berniat bertanya tentang kebenarannya kepada seorang teman. Namun, sebelum sempat menunaikan niat itu, ia menjelaskan bahwa memang benar bahwa Jakarta tak melulu seindah yang terlihat di televisi. Penjelasan itu bermula saat kami membahas sedikit tentang buku ini. Ia sudah selesai membacanya.

Voice note yang panjang dan kalimat-kalimat penjelasan yang teman saya kirim seakan memvalidasi rasa penasaran di hati saya. Ternyata Jakarta menyimpan sebuah kehidupan yang kontras dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Ternyata ada sebuah kehidupan yang tersembunyi dari gagahnya mantan ibu kota ini.

•••

Saya tidak tahu bisa menyebutnya kekurangan atau tidak, namun 'kisah kehidupan Dewi' sebelum bertemu suaminya dan alasan mengapa ia bersedia menerima lamaran Tomi tidak dijelaskan sampai akhir. Saya masih penasaran akan bagian itu. Menurut saya, bagian ini juga penting untuk dijabarkan. Akan tetapi sepertinya tidak semua hal menyediakan jawaban.