SHARING: DI TANAH LADA

 


"Tetapi mungkin itu kebenarannya: Tidak banyak yang menganggap anak-anak benar-benar penting. Mungkin mereka menganggap suara-suara muda sebagai pendapat yang tidak perlu didengar, tidak cukup berbobot untuk diindahkan, terlalu tidak serius untuk ditindaki." (Pengantar Edisi 2024)

🌶️🌶️

Identitas Buku

Judul: Di Tanah Lada

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Tebal: xiv + 289 halaman

Dicetak oleh PT Gramedia, Jakarta, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Blurb

Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapnya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap makna dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P—anak lelaki yang pandai sekali bermain gitar. Perjumpaan Ava dengan P, dan petualangan keduanya akan membawa pembaca ke banyak pojok gelap dan muara yang mengejutkan.

Pada edisi kali ini, novel Di Tanah Lada dilengkapi dengan sebuah catatan, banyak ilustrasi, dan satu kemungkinan akhir cerita lain.

🫑🫑

"Dalam edisi terbaru ini, saya mengizinkan akhir yang asli muncul sebagai alternatif, demi teman-teman yang merasa keputusan terakhir saya terlalu menyesakkan. Pendapat saya masih sama—itu bukan akhir yang bahagia. Itu adalah selimut penenang, ilusi, kebahagiaan singkat untuk pembacabukan untuk P dan Ava. Anak-anak yang hidup dalam cerita ini, buat saya, hidup, dan masih ada banyak hal yang menanti mereka setelah buku ditutupdan sepertinya, yang menanti mereka adalah hal-hal yang sangat menakutkan. Tapi mungkin pembaca adalah kelompok yang lebih optimis daripada saya, maka saya serahkan pilihan ini kepada kalian." (Pengantar Edisi 2024)

✿⁠ ✿⁠ ⁠✿⁠ 

Untuk pertama kalinya saya membaca buku yang menggunakan anak-anak sebagai penggerak cerita, sehingga menurut saya, buku ini sangat unik dan menarik untuk diselami. Sudut pandang yang jarang saya temukan ini membuka mata saya tentang perspektif yang berbeda. Jujur, saya tidak pernah terpikirkan untuk membuat cerita dengan karakter seperti dalam buku ini. Jadi, bagi saya, penulisnya sangat jenius.

Melihat hidup dengan kacamata dan tubuh yang lebih kecil ternyata tak mengurangi perasaan yang ingin disampaikan. Justru, mungkin selama ini kita begitu egois karena mengkerdilkan hak anak-anak untuk didengarkan dan diberi ruang untuk merincikan perasaan serta pikirannya.

Percakapan-percakapan yang polos antara P dan Ava sedikit mengobati perasaan saya di samping menyedihkannya kisah hidup mereka. Ketidaktahuan tentang banyak hal justru menegaskan kehangatan dari diri mereka, bahwa anak-anak memang sewajarnya seperti itu.

Ciri khas pertanyaan mereka sebagai anak-anak: diakhir 'sih' dalam setiap kebingungan akan sesuatu yang tidak mereka tahu.

"Penguin hidup berapa lama, sih?"

"Akronim itu apa, sih?"

Menurutku ini sangat natural, seperti saya yang sering mendengar hal serupa dari murid-murid saya yang datang belajar.

Mereka hanyalah anak-anak.

Kata Mas Alri, "Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut."

Itu nasehat Mas Alri untuk Ava.

Ava adalah anak yang cerdas, cenderung kaku tata bahasanya karena memang dididik dengan kamus oleh Kakek Kia. Akan tetapi, Ava tetap mengagumkan, sebab Ava mengetahui banyak kosakata baku dan bisa menjelaskannya. Dia juga anak yang jujur dan polos dan baik dan penurut.

Bertemu dengan P adalah kebahagiaan untuk Ava, begitupun sebaliknya. Mereka hanya anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang tidak seharusnya, mereka hanyalah anak-anak yang tertindas. Seharusnya mereka bahagia di mana pun mereka berada, atau bersama siapa pun mereka menjalani harinya. Tapi ternyata tidak selalu.

Kisah mereka tidak rumit, sederhana, selayaknya kisah anak-anak, tapi sakit. Mengapa bisa begitu? Sebab orang dewasa di sekitar mereka begitu kejam—meski hanya diwakili oleh orang terdekat mereka, tapi justru itu membuatnya lebih kejam, bukan? Sebenarnya percakapan P dan Ava begitu lucu dan hangat seperti lada, tetapi jika dimaknai lebih jauh, tidak lucu sama sekali. Hanya mereka berdua yang lucu, kisahnya tidak, Papa mereka juga tidak, Mama mereka juga tidak, takdir mereka juga tidak.

Selama hampir seminggu (4-8 Juli 2013) bersama P dan Ava, dari mereka bertemu di Rusun Nero hingga tiba di daerah rumah Nenek Isma, rasanya saya ada di sana, ikut bersama mereka, ke kamar Ava untuk membuat tempat tidur dari koper, ke kamar P untuk melihat ruangan kardus, ke atap rusun untuk membaca buku dan melihat bintang yang sebenarnya bukan bintang, ke tempat fotokopian, ke rumah Tukang Sate, ke rumah sakit, ke tempat Bu Ratna dan Pak Ratna, ke warung dekat Rusun Nero, ke pantai, dan ke semua tempat yang mereka singgahi. Rasanya saya ingin memeluk mereka detik itu juga, terutama P yang selama sepuluh tahun hidup tanpa kasih sayang. Dan tentu saja Ava yang selalu takut dengan Papa selama enam tahun.

Di Tanah Lada seharusnya dibaca oleh para orang tua agar mereka bisa lebih banyak belajar untuk menjadi Mama dan Papa yang baik seperti kata Mas Alri. Tentu saja setiap orang tua pernah berada di fase pertama kali menjadi orang tua, maka dari itu mereka perlu lebih banyak belajar, agar bisa menjadi Mama dan Papa yang baik seperti keinginan sederhana Ava dan P. Anak-anak tidak seharusnya dibentak, dikasari, apalagi disakiti. Mereka pantas mendapatkan cinta dan pelukan yang hangat setiap hari.

Di Tanah Lada juga memberikan pengajaran untuk kita semua, bahwa anak-anak sifatnya mengingat dan menyampaikan dengan terang apa yang mereka dengar, entah itu baik atau buruk, pantas atau tidak pantas diucapkan. Anak-anak perlu dibimbing sejak kecil, karena mereka adalah insan yang cerdas dan mudah belajar. Seperti Ava yang pandai berbahasa dan P yang pandai bermain gitar. Terima kasih Kakek Kia dan Mas Alri yang sudah mengajarkan mereka berdua.

Mungkin kalimat saya kali ini ngelantur, tidak runut, tapi tidak apa-apa. Saya ingin mencoba bercerita seperti Ava, tidak sempurna juga tidak apa-apa, Ava kan masih kecil. Anggap saja saya sedang memanggil jiwa saya di masa lalu, saat seusia dengan Ava. Meski saya tidak ingat ingin menjadi apa jika ada reinkarnasi di dunia ini. Ava ingin menjadi Penguin, atau Telur. P ingin menjadi Badak Bercula Satu. Tapi yang pasti, dulu saya tidak pernah mendengar kata reinkarnasi, jadi saya yakin saya tidak tahu dan tidak mengerti. Tapi nanti akan saya pikiran akan menjadi apa jika bisa bereinkarnasi. Mungkin menjadi kupu-kupu agar bisa terbang, tetapi mungkin burung hantu, atau ikan.

Kebiasaan membaca saya sedikit aneh (mungkin bagi sebagian orang) karena saya selalu mengawali bacaan dengan Kata Pengantar atau Prakata dalam setiap buku. Sebab saya merasa ada sesuatu yang penting di sana, yang ingin disampaikan penulis secara nyata (bukan tentang alur cerita). Kemudian hari ini, setelah membaca buku ini, saya semakin sadar bahwa ini penting. Tadi, saat membaca dua sub bab terakhir novel ini, saya sedikit bingung, kenapa kalimatnya diulang, kenapa alurnya sama, kenapa ending-nya berbeda. Ternyata, seperti yang dikatakan penulis, itu adalah alternatif bagi pembaca. Jadi, kita bisa memilih dua akhir yang sangat jauh berbeda. Meski begitu, tidak ada yang berubah, Ava dan P tetaplah anak-anak yang tersakiti oleh tangan orang dewasa.

Saya sedih, sedih sekali sampai saya menangis ketika membayangkan kehidupan kedua anak kecil ini. Dunia begitu kejam kepada mereka yang terlalu muda dan rapuh. Saya menangis saat P berkata, "Aku nggak punya apa-apa lagi," ulang Pepper (nama yang diberikan Ava untuk P) sambil terisak. "Aku nggak punya rumah, nggak punya Papa, nggak punya nama... Seenggaknya, dulu, meskipun banyak tikusnya, kamar 315 di Rusun Nero itu rumahku. Meskipun dia membakar tanganku pakai setrika, dia Papaku. Meskipun cuma satu huruf, itu dulu namaku. Sekarang... sekarang..."

Sebenarnya, saya masih penasaran siapa nama P yang sebenarnya. Apakah benar-benar Prince? Hanya Kak Suri yang tahu.

Saya juga sedih saat Ava bercerita bahwa dulu papanya ingin menamainya 'Saliva' yang berarti 'ludah' karena dianggap tidak berguna, atau saat Ava bercerita bahwa papanya tidak suka melihatnya tertawa, atau saat Ava harus tidur di kamar mandi yang dingin. Semua kisah mereka menyedihkan, tidak ada yang bahagia, selain hanya saat momen mereka berdua, anak-anak kecil ini, yang kadang berdebat hanya karena sebuah nama panggilan untuk orang sekitar. Pak Tukang Sate atau Pak Wahyu, yang sebenarnya adalah orang yang sama.

Saya tidak tahu lagi harus menulis apa, mungkin ini cukup untuk menggambarkan isi pikiran saya, atau tidak cukup baik untuk menggambarkan perasaan saya, saya tidak tahu, yang saya tahu, pembatas buku yang ada di buku ini sangat lucu, berbeda dari yang pernah saya temui dan miliki. Gambar-gambar yang ditampilkan di buku ini juga sangat bagus. Saya suka buku ini. Saya juga akan merekomendasikan buku ini kepada orang lain.

rekomendasi/re·ko·men·da·si/ /rékoméndasi/ n (1) hal minta perhatian bahwa orang yang disebut dapat dipercaya, baik (biasa dinyatakan dengan surat); penyuguhan; (2) saran yang menganjurkan (membenarkan, menguatkan): pemerintah menyetujui -- DPR tentang kenaikan gaji pegawai negeri;

merekomendasi/me·re·ko·men·da·si/ v memberikan rekomendasi; menasihatkan; menganjurkan: komisi ini telah ~ pembentukan dewan pengawas keuangan

Saya juga suka karena buku ini menjelaskan kenapa judulnya Di Tanah Lada. Sebagai seseorang yang baru akan puas jika sudah mendapatkan apa yang ia mau, maka kali ini pun saya puas, karena misteri judul juga terpecahkan.

Karena Ava dan P ingin pergi ke tempat yang langitnya ada bintang, jadi saya ingin memberi bintang 🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 untuk mereka. Semoga harapan kalian terkabulkan, ya, anak-anak baik dan manis.

Salt and Pepper will be happy. I love you♥️

Terakhir, untuk Ava dan P di luar sana, yang mungkin memiliki nasib yang sama, saya harap Tuhan berbaik hati untuk menggerakkan hati orang dewasa di sekitar kalian, agar dapat menjelma menjadi Kakek dan Nenek yang baik seperti definisi Ava dan P dalam cerita ini. Semoga kalian juga bahagia dan terlepas dari jerat berduri. Saya juga berharap kalian bisa bersekolah dengan baik, menonton televisi dengan senang, tidur dengan nyenyak, dan makan yang kenyang tanpa pernah mendengar "Anak enam tahun seharusnya sudah bisa bekerja, bukan hanya tahu menghabiskan uang saja."

Dan untuk pembaca setia ulasan-ulasan saya, mungkin kalian akan sadar jika tulisan kali ini sedikit menggunakan gaya yang berbeda. Tetapi kalian akan paham jika sudah membaca novel ini juga. Saya harap kalian juga mau membacanya. Saya benar-benar yakin untuk menyarankan kalian membaca buku ini.

Aku berharap buku ini akan difilmkan. 

🌶️🌶️