WHOLE MONOLOG
WHOLE MONOLOG
Oleh: Ida Royani
Tanpa meniadakan yang lain, sejenak saja, biarkan aku berdiskusi dengan aku yang utuh.
Bagaimana kabarmu?
Kapan terakhir kali kamu mendapati pertanyaan itu dengan rasa haru? Pertanyaan yang bukan sekadar formalitas belaka.
Entah, aku tidak ingat kapan dan oleh siapa. Tetapi sedetik sebelumnya aku mendapatinya dari diriku. Bukankah kamu selalu menanyakan itu alih-alih memberiku penilaian yang buruk? Aku bersyukur akan sikapmu yang terus memperhatikan hal-hal kecil seperti ini.
Sungguh, aku menikmati rasanya mencintaimu dengan sepenuh hati, meski aku tahu kamu tidak pernah sempurna. Tak apa, kita hanya manusia yang berusaha tumbuh dengan baik untuk dapat memberikan yang terbaik, bagi diriku, dirimu, dan juga orang-orang sekitar yang pantas mendapatkannya.
Bagaimana harimu?
Ah, aku harus menjawab ini dalam rentang waktu yang berbeda, hari ini dan hari-hari sebelumnya. Agar kamu tahu bahwa hidup selalu berjalan, meski selambat apapun itu.
Jika kamu bertanya hari ini, jawabanku adalah ambigu, antara baik dan tidak baik. Memasuki tahun ini, aku merasa mulai menarik diri dari aktivitas-aktivitasku sebelumnya. Beberapa hal tak lagi kulakukan dengan rutin. Aku mulai menepi dan membiarkan orang lain melewatiku. Aku berhenti bergerak, sejenak. Aku hanya beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan sosial yang melelahkan. Apakah ini relate dengan hasil tes MBTI milikku yang berubah drastis dari E ke I beberapa waktu lalu? Rasa-rasanya ada keterkaitan antara keduanya. Sadar tidak sadar, aku mulai sedikit menjauh dari dunia.
Hidup tanpa memikirkan apapun, aku ingin kehidupan seperti itu. Tapi sepertinya tidak bisa, bukan? Karena kita berada di dunia yang juga dimiliki orang lain. Jadi kurasa aku juga harus lebih perhatian terhadap sekitar. Aku akan lebih berusaha.
Adalah benar! Ini kehidupan sosial yang bukan hanya aku penghuni dunia. Aku hanya istirahat, kok. Beberapa hal mungkin berubah, tapi tidak sepenuhnya. My old me, and my new me tetaplah aku, dan diriku. Lebih tenang, tetapi monoton dan membosankan. Jadi, apakah ini dikategorikan baik atau tidak baik? Aku juga tidak mengerti.
Jika berbalik arah ke tahun-tahun sebelumnya, aku begitu banyak menghabiskan waktu di luar sana, bertemu banyak orang. Tidak berlebihan, kurasa masih seimbang. Namun, jika dibandingkan dengan intensitas tahun ini, jauh lebih menurun. Dulu, aku berlari begitu kencang, pergi ke sana kemari, menelusuri setiap jalan yang tidak pernah aku lewati sebelumnya. Lebih lelah, tetapi menyenangkan.
Lalu, bagaimana? Apakah kamu bahagia?
Tentu saja! Meski tidak selalu baik dan sesuai keinginan, aku selalu bahagia menjadi "aku saat itu" atau "aku saat ini". Si Juru Kampanye berstatus ENFP dan Mediator bergelar INFP tetap mengutamakan kebahagiaan dirinya di atas apapun. Meski jalan yang ditempuh berbeda, kurasa aku tetap bisa bahagia, bukan?
Ah, entahlah... Aku selalu berdoa pada Tuhan untuk selalu diberikan kebahagiaan. Tetapi, aku juga tak lupa bahwa bahagia itu datang dari rasa syukur atas apa yang Tuhan berikan untuk kita. Sepertinya aku bisa menciptakan bahagiaku tanpa terikat pihak manapun.
'Apakah kamu tidak pernah terluka, bagaimana kamu bisa selalu terlihat bahagia'. Begitu kata orang-orang, bagaimana tanggapanmu?
Kurasa tidak ada manusia yang tidak memiliki luka di dunia ini. Kurasa setiap orang punya masalahnya sendiri, punya tantangannya sendiri, punya kesedihannya sendiri, begitu juga dengan aku. Lagipula kita sudah sepakat untuk tidak memperlihatkan air mata dan hanya menunjukkan hal-hal baik.
Jika mendapati pernyataan itu, bukankah kita sudah berhasil? Berhasil menipu dunia bahwa kita selalu baik-baik saja. Ah, tidak, tidak. Aku hanya ingin menebarkan yang positif positif saja. Biarlah hal-hal tidak menyenangkan menjadi urusanku yang sesekali aku bagi dengan orang-orang terdekat.
Apakah ada yang berubah sejauh ini?
Bohong jika aku mengatakan tidak. Manusia mana yang tidak berubah setelah melewati belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan hari? Semua bergerak dan berubah sesuai ritmenya masing-masing, begitu juga aku. Sebanyak apa perubahan itu, aku tidak bisa menakarnya dengan sempurna.
Aku masih bisa lebih dulu membuka obrolan ketika bertemu orang baru, meski di dalam room chat, aku kesulitan menuntun arah pembicaraan. Jadi, sisi E dan I milikku sepertinya tidak sepenuhnya salah, meski aku sempat denial akan perubahan yang signifikan dan menolak menjadi introvert. Aku masih suka berpetualang, masih suka menjelajahi kafe untuk mencoba berbagai menu, masih suka berbaur dengan orang-orang terdekat, pergi jalan-jalan dan sebagainya.
Ah, aku juga suka saat berada di rumah sendirian, menonton serial drama yang sudah masuk daftar, maraton komik sampai puluhan episode, mendengarkan lagu sembari menyelesaikan buku bacaan, atau hanya sekadar berdiam diri di kamar tanpa bertemu siapapun. Energiku selalu punya porsinya masing-masing pada dua kepribadian yang bersarang dalam diriku.
Apalagi yang berubah? Menelisik jauh ke beberapa tahun silam, tentu aku juga berubah banyak. Dulu, dulu sekali saat usiaku masih dikategori anak-anak, aku begitu aktif tapi pemalu. Mirip bolang tapi versi tidak berani tampil di depan. Aku suka kegiatan lapangan, tetapi aku tidak suka menjadi pusat perhatian.
Kemudian memasuki usia pra-remaja saat duduk di bangku sekolah menengah, aku mulai mencoba hal baru, mulai mencoba tampil, sedikit demi sedikit. Lalu, saat aku memasuki masa putih abu, diriku yang dulu pemalu mulai sedikit terkikis. Bukan, bukan malu-maluin dalam artian negatif ya. Maksudku, aku mulai berani berbicara di depan banyak orang, aku mulai berani show up, dan aku mulai berani menjadi manusia ekstrovert dominan. Bukan hal yang buruk.
"Ah, kamu saja, aku tidak berani," ucap diriku yang dulu.
"Baiklah, akan aku coba, tolong bimbing aku," ucap diriku setelahnya.
Perubahan yang begitu signifikan terjadi saat masa-masa itu. Memasuki usia pra-dewasa dan dewasa, aku berubah, tapi mungkin tidak sebanyak dulu. Aku masih mencoba menstabilkan emosi, me-management diri, dan belajar lebih banyak hal. Sampai saat ini, aku banyak berubah dibandingkan diriku yang dulu, dari berbagai segi, tapi aku tahu aku masih memiliki diriku.
Aku juga masih suka menggambar meski tak sesering dulu. Masih suka membaca dan menulis hingga kini sudah berkembang cukup bagus. Aku juga sangat senang mengumpulkan buku-buku fisik untuk memenuhi rak buku di kamarku. Tentu, aku juga suka scroll sosial media untuk mencari hiburan atau sekadar menghabiskan waktu dan memenuhi ego kegabutan ini.
Apa kamu tahu? Aku juga mulai suka K-Pop di tiga tahun terakhir ini, meski sudah tidak segila tahun-tahun pertama, haha. Apalagi yang perlu aku bicarakan? Sepertinya topik tentang 'perubahan' ini tidak akan ada habisnya. Karena sejatinya manusia berubah seiring waktu, konsisten, meski tanpa sadar dan terencana.
Oh iya, aku juga masih suka langit, meski akhir-akhir ini tidak selalu kuabadikan. Netraku lebih fokus dibandingkan lensa kamera yang selalu aku pakai sebelumnya. Aku juga masih suka mendengarkan musik dalam menempuh perjalanan, selain untuk menenangkan diri, juga untuk menikmati hal-hal indah di sekitar. Kamu tahu betul euphoria berkendara di sore yang tenang dengan alunan lagu yang lembut, jadi tidak perlu aku detailkan.
Bagaimana dengan egomu?
Topik yang berat juga ringan, bukan? Haha! Egoku sangat haus untuk diberi minum, juga sangat lapar untuk diberi makan, tetapi terkadang tidak ada air juga makanan yang tersedia. Anggap saja sekarang sedang berpuasa.
Jika kamu menanyakan ini, jiwa bebasku tentu saja akan mencuat dan membara bersama jiwa petualang yang masih sering tersandung. Aku ingin mencapai puncak yang tinggi, menapaki jalan-jalan terjal dan bebatuan, tapi sayang tidak ada izin untuk pergi. Aku juga sesekali ingin menikmati malam yang dingin di bawah barisan bintang dan terangnya sinar rembulan sembari mengeratkan jaket agar tak sakit. Sesekali melihat lautan yang luas di tepi pantai yang tenang, tapi lagi-lagi aku harus menguburkan keinginan itu. Aku juga ingin mengunjungi berbagai tempat bersejarah, tempat wisata, tempat-tempat yang jarang diketahui, atau tempat memorable lainnya, tetapi kesempatan itu belum datang.
Nyatanya, ego paling tinggi milikku adalah "jawaban iya, tanpa ada penolakan". Aku cukup percaya diri untuk bisa menjaga diri dengan baik pada batas-batas koridor yang ditentukan. Kata 'bebas' milikku bisa jadi berbeda dengan penafsiran orang lain. Aku punya kamusku sendiri. Sudah-sudah, jangan dibahas terlalu dalam, takutnya luka sisa-sisa penolakan itu semakin sulit untuk sembuh.
Lingkungan pertemananmu bagaimana?
Mungkin lebih mengecil juga lebih luas secara bersamaan. Pertemanan real life maupun virtual beriringan, tetapi mengerucut dan melebar secara berbarengan. Kamu pasti mengerti maksudku, semua orang juga sepertinya mengerti. Tidak masalah, apapun itu, semoga hubungan baik dengan siapapun tetap terjaga, itu harapanku.
Bagaimana...
Bagaimana apa? Kamu sepertinya sudah bingung akan menanyakan apalagi. Oke, aku tidak tahu jawaban ini mengarah ke pertanyaan yang mana, tapi aku akan memberikan rinciannya. Baru-baru ini aku mulai sadar satu hal, tentang perasaan yang sangat dalam akan sesuatu.
Saat aku bisa membuat orang lain tersenyum dan bahagia akan sikapku, aku begitu senang dan terharu, kemudian aku menutup dan menyimpannya menjadi memori yang indah untuk dikenang alam bawah sadarku. Begitu juga saat aku membuat orang lain kecewa atas perilakuku, aku akan terus memikirkannya sampai entah kapan. Ini sulit sekali dilupakan dan kadang membuatku tersiksa sendiri. Meski sudah baik-baik saja, aku masih cukup keras dengan diriku sendiri. Apakah ini naluriah yang aku tetapkan untuk mencoba 'sempurna'?
Aku tidak sadar, tapi aku akan belajar menjadi orang yang lebih baik. Jangan berekspektasi, aku hanya manusia biasa. Terkadang kita kecewa karena ekspektasi sendiri.
Jika bisa memilih memori mana yang bisa dibiarkan dan dihilangkan, aku mungkin sudah menghapus memori-memori tidak mengenakkan itu. Tapi, lagi-lagi aku hanya manusia biasa yang masih banyak tingkah, bukan robot atau program komputer yang bisa dikendalikan seenaknya. Tapi tak apa, dengan kesalahan, kita bisa belajar lebih banyak hal.
Pasangan?
Haha
Mengapa kamu tertawa?
Ah, tidak, tidak. Aku hanya ingin tertawa, tidak bermaksud apa-apa. Aku tidak takut diberi pertanyaan "kapan nikah" oleh orang sekitar. Aku hanya perlu mendengarkan diriku, mempersiapkan diri, dan menunggu Tuhan menurunkan skenario terbarunya. Untuk saat ini, aku masih sendiri, mengejar mimpi-mimpi yang sudah kutulis jauh-jauh hari. Aku tidak berminat pacaran. Jika waktunya tiba, aku hanya akan bersama dengan 'seseorang' yang telah dipilih Tuhan untukku. Satu, dan selamanya. Aku masih cukup waras ketika melihat teman-teman seusiaku sudah melangkah jauh ke depan. Aku sadar ini bukan perlombaan, jadi aku masih santai. Setiap orang berjalan dengan kecepatannya masing-masing. Faktanya memang belum menemukan yang ng-klik dan bisa membuatku mengatakan "ayo".
Dan ya, kamu tahu pasti, untuk sekarang aku hanya punya lelaki berdarah dingin dengan langit senja bermarga Min, juga pangeran es dengan gambar estetik bermarga Park. Uniknya, kami bertiga sama-sama menyukai kopi. Sudah-sudah, kita akhiri pembahasan ini.
Sebentar, jangan buat penasaran! Siapa itu siapa?
Hadeh, jangan jadi kura-kura dalam perahu deh.
Jawab aja, apa susahnya. Kan pembaca yang lain belum tentu tahu, hehe.
Baiklah, baiklah. Siapa lagi kalau bukan Min Yoongi dan Park Sunghoon? Emang ada yang lain?
"Aku harus lebih baik dari dia, pikiran seperti itu sangat melelahkan." - Yoongi on Suga: Road to D-Day documentary
"There are a lot of people asking for a hug today, are you having a hard time? You did well... The world is lucky to have you." - Sunghoon on Weverse Live
Oke, lalu bagaimana dengan mimpimu?
Mmm, karena ini pertanyaan umum, baiklah. Beberapa mimpiku sudah tercapai, beberapa lainnya masih sedang diusahakan dan didoakan. Meski sedikit maruk, aku masih sangat ingin keluar dan mengelilingi wilayah Indonesia lalu berangkat ke luar negeri. Liburan, tentu saja! Kalau bisa liburan sambil belajar. Ya, ya, sekarang aku punya tempat favorit. Apa itu? Bandara! Terdengar aneh? Tidak apa-apa, aku siap menjadi aneh untuk hal-hal yang aku suka.
People come and go. Bertemu dan berpisah, meninggalkan dan ditinggalkan. Namun, hal-hal baru berangkat dari siklus hidup yang seperti ini, dari tempat ini. Aku suka dengan euphorianya, meski aku tak suka ditinggal. Selamat jalan, selamat datang, sampai jumpa lagi. Airport is a best place for new experience, and I love it.
Secara keseluruhan, bagaimana dengan aku?
Aku sedikit bingung harus menjawab pertanyaan ini seperti apa. Aku tetaplah aku. Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu. Terlepas dari pertanyaan itu, mari kita berjuang bersama dan saling menguatkan. Aku mencintaimu, kamu mencintaiku, itu saja.
Meski aku selalu bisa menemukanmu kembali, jangan pergi terlalu jauh. Perjalanan ini masih panjang, tolong jangan hilang. Mari melangkah lebih yakin dan bertahan lebih kuat.
Apakah kamu masih menjadi manusia tidak sabaran dan emosian?
Masih. Aku masih suka tidak sabar melihat ending sesuatu, padahal baru saja dimulai. Aku masih suka tidak sabar akan sesuatu yang membuatku excited, seperti menyelesaikan buku soloku? Untuk saat ini, itu yang paling spesifik. Aku juga masih suka emosian karena benda mati, haha.
Hey, bagaimana akhirnya kamu bisa menulis ini. Bukankah sebelum merilis tema, kamu sebenarnya masih bingung?
Well, aku cukup percaya diri, meski saat itu aku tetap mempublikasikan tema ini. Masih tidak tahu harus membawa tulisanku kemana. Anehnya, aku selalu mendapat ide dari hal-hal receh seperti biasa.
Tadi pagi aku sedang membaca beberapa pertanyaan teman-teman di grup kelas editing. Sebagai usaha menjadi editor berkualitas, mereka banyak bertanya tentang penulisan dialog yang benar. Lalu, setelah ini aku berselancar ke sosial media. Saat berhenti di Instagram, aku kemudian menemukan satu postingan oleh seseorang (aku lupa itu siapa, karena bukan orang yang aku kenal) tengah meng-upload foto-foto dari Naver terkait photobook dari Yoongi yang bertajuk Wholly and Whole Me.
Jadilah aku menggarap tema ini dengan konsep dialog terhadap diri sendiri (monolog) yang utuh (whole) meski mungkin tidak sepenuhnya utuh. Sebenarnya ini konsep final dari tulisan mentah milikku di feed Instagram pada Intenasional Mental Health Day tahun lalu. Di sana aku menulis tentang diriku dengan sudut pandang dialog, postingan itu sudah aku arsipkan. Bukankah aku hebat, haha.
Ya, ya, di mataku kamu selalu hebat!
Baiklah, last but not least, ada yang mau kamu sampaikan buat aku?
Aku teringat dengan kalimat dari sebuah buku yang ditulis oleh Ust. Felix Y. Siaw.
Today is Yesterday, Tomorrow is Today
Aku hari ini adalah aku yang kemarin, dan aku yang besok adalah aku yang hari ini.
Bahwa elemen "aku" di masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah satu kesatuan. Tidak terpisahkan meskipun kamu mencintainya sampai gila, atau membencinya dengan tega. Mari mengambil jalan tengah, secukupnya.
Bagaimana dengan kamu?
Aku? Mengapa kamu bertanya?
Tidak ada, aku hanya penasaran saja.
Aku adalah kamu, jadi tidak ada jawaban yang berbeda.
Haha, aku tahu itu.
Terima kasih untuk aku yang dulu sudah mau mencoba banyak hal baru dan mengusahakan perubahan yang lebih baik. Jangan menyesali apapun, kamu sudah berusaha dengan sebaik yang kamu bisa, kamu hebat!
Terima kasih untuk aku yang saat ini masih terus bertahan dan mencoba bertumbuh juga menguatkan akar. Jangan tumbang, mari berdiri dengan percaya diri. Meski sesuatu tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tidak apa-apa, kamu tetap luar biasa.
Romantisasi hidupmu, dandan yang cantik, makan makanan yang kamu suka, beli pakaian yang kamu mau, bertemu teman yang seru, mengunjungi tempat-tempat impian, perbaiki shalat dan tetaplah menjadi orang yang bermanfaat!
Remember?
Perbaiki shalatmu maka Allah akan memperbaiki hidupmu
Terima kasih untuk aku di masa depan yang tidak menyesali apapun yang sudah terjadi. Jangan terlalu menyiksa diri dengan sesuatu yang tidak perlu.
Kuharap kamu di masa depan akan jauh lebih dewasa dari aku yang hari ini juga kemarin. Jaga kesehatan dan berbahagialah, aku.

Posting Komentar