FROM WRITING TO EVERYTHING
"Every effort has a result"
(。・//ε//・。)
Bismillah, semoga kisah singkat ini bisa memberikan inspirasi untuk siapa pun yang membacanya.
Menulis adalah aktivitas yang saat ini menjadi bagian dalam keseharian. Sehari saja tidak menulis, rasanya seperti ada yang kurang. Perasaan ini tumbuh melalui pembiasaan-pembiasan yang dibentuk sejak empat tahun lalu.
Flashback ke tahun itu, tahun 2020 saat corona virus menyapa dunia, membuat seluruh aktivitas berjeda, termasuk perkuliahan di lakukan di rumah saja. Tidak berselang lama dari kuliah daring, rasa bosan menghantui. Sebagai anak ekstrovert, diam di rumah saja tanpa ada teman berbicara membuatku sangat jenuh. Akhirnya aku mulai mencari kesibukan selain kuliah.
Juni 2020, menggali kembali keasbunanku di tahun pertama menjadi mahasiswa, "kayaknya keren kalau namaku ada di cover buku". Lalu, aku memutuskan untuk terjun ke dunia literasi. Aku mulai mencari-cari kelas online dan webinar yang bisa diakses secara gratis. Aku ingat pertama kali belajar menulis di Madani Training. Pertama mengikuti seminar online lalu nulis kolaborasi dengan modal nekat. Mengapa aku sebut nekat? Karena saat itu baru sekali mengikuti pelatihan langsung ikut nulis untuk buku antologi. Setelah buku pertama sampai di tanganku, ternyata aku suka euphoria melihat karya sendiri. Langsung kecanduan.
Karya pertama itu adalah batu loncatan yang membuatku semakin semangat mengekspor kelas-kelas menulis. Belasan bahkan puluhan webinar dan kelas kepenulisan kuikuti dari berbagai komunitas. Aku benar-benar serius ingin menjadi penulis. Terlahir sebagai listener membuatku sulit bercerita, maka dengan menulis inilah aku membagikan bahasa yang tidak bisa terucap kata. Aku siap menjadi penulis!
Sedikit demi sedikit, belajar dan terus belajar. Aku tidak merasa lelah, justru aku sangat senang. Tahun 2020 benar-benar menjadi tahun membangun pondasi dan memperkuat dasar. Satu persatu karya nulis kolaborasi mulai lahir. Setelah delapan buku antologi tercipta, akhirnya di akhir tahun 2020 aku menerbitkan sebuah buku solo yang berisi kumpulan puisi berjudul "Semesta & Rasa". Dream unlocked; punya buku solo, nama ada di cover buku.
Setengah tahun kuhabiskan untuk menjelajahi seluk-beluk tulis menulis. Selain itu, aku juga mulai mengumpulkan buku. Mimpi baru unlocked, perpustakaan pribadi.
Awal tahun 2021 dibuka dengan resolusi-resolusi baru. Aku juga mulai mem-branding diri menjadi penulis. Aku ingin orang lain tahu bahwa aku sudah menulis, aku sudah memiliki karya, maka aku mulai aktif mempromosikan karya-karyaku di sosial media. Alhamdulillah respon teman-teman dan orang terdekatku sangat bagus sehingga aku semakin tergugah untuk terus berkarya.
"Orang lain akan melihatmu sebagaimana kamu memperkenalkan diri."
Setelah itu, buah usaha yang sudah kulakukan belakangan mulai bisa dipetik hasilnya. Aku mulai dipercaya menjadi koordinator Komunitas Menulis Indonesia Daerah Lombok, dipercaya membantu layout di penerbit, dan diajak teman ikut lomba menulis; MTQ cabang karya tulis ilmiah Al-Qur'an (M2IQ). Terharu sekaligus bangga dengan diri sendiri.
Tahun 2021, aku menghabiskan waktu dengan menjalani tugas sebagai pengurus organisasi dan menulis. Di akhir tahun ini lahir buku solo kedua berjudul "Epiphany" dan delapan buku antologi lagi.
Tahun 2022 aku mulai ikut seleksi MTQ di tingkat kecamatan. Lolos ke tingkat kabupaten dan bertanding di sana. Hasilnya, dari seluruh perwakilan kecamatan di Lombok Tengah, aku menempati posisi keempat. Not bad, untuk orang yang baru pertama menginjak arena lomba. Tidak menyerah, aku kembali berlaga di kabupaten Lombok Barat. Nice try, aku lolos ke tingkat provinsi. Dream unlocked; juara di bidang kepenulisan.
Selain keharusan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk MTQ tingkat provinsi, aku juga harus menyelesaikan kewajiban dan menuntaskan amanah orang tuaku; skripsi. Memang lelah dan membutuhkan effort lebih banyak, tapi aku meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa. Menjalani TC (Technical Center) atau pelatihan intens untuk persiapan lomba sampai harus menginap berhari-hari ditambah menyempatkan diri untuk konsul skripsi tidaklah mudah. Dua-duanya harus dijalankan dengan baik, tidak boleh ada ketimpangan. Pagi izin konsul, siang sampai malam mengikuti pelatihan, menjelang tengah malam baru bisa istirahat.
Setelah berjuang dengan gigih, akhirnya gelar juara pertama M2IQ putri tingkat provinsi berhasil kuraih. Aku berhasil menjadi perwakilan NTB untuk berlaga di tingkat nasional. Siklusnya sama, TC untuk nasional, konsul, menulis, repeat. Setelah seminar proposal, aku berangkat menjalani tugas. Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menjadi saksi bahwa satu mimpi kembali terbuka; pergi ke luar daerah secara gratis.
Lomba tingkat nasional menang? Tidak, haha. Tidak apa-apa, gagal juga adalah bagian dari proses. Tetapi lagi-lagi Allah memberikan sesuatu yang luar biasa untukku. Tiket umroh yang dipersembahkan oleh kafilah Lombok Barat untuk para peserta yang berhasil lolos ke nasional. FYI, waktu persiapan lomba provisi, aku mendapatkan bisikan bahwa yang bisa lolos ke nasional akan mendapatkan hadiah umroh, maka itulah yang menjadi motivasi terbesar untuk terus maksimal.
Labbaik Allahumma Labbaik~
Allah memanggilku ke baitullah melalui jalan menulis, melalui Al-Qur'an. November 2023 aku berangkat umroh bersama para juara lainnya. A dream unlocked again; pergi ke luar negeri secara gratis. Siapa sangka, negara pertama yang aku kunjungi adalah Arab Saudi dengan kota terbaik, kotanya para Nabi, Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawarah. Pulang dari sana, rombongan kami singgah di Malaysia untuk city tour. Sekali terbang, dua negara kusinggahi. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Dari menulis, aku berhasil membuka tabir-tabir impian dan menemukan hal-hal berharga lainnya. Abadi lewat karya, perpustakaan pribadi, founder komunitas menulis Snooze Projects (Juni 2023, sehari setelah wisuda), speaker di bidang kepenulisan, layouter, editor, perjalanan penuh makna, sahabat yang berharga, pengalaman luar biasa dan masih banyak lagi. Benar-benar definisi from writing to everything. Semoga Allah merahmati dan meridhoi perjalanan kita semua. Amiin.
"Tidak ada pencapaian yang diraih satu malam, semuanya butuh proses yang panjang"
Mari bersiap-siap untuk petualangan selanjutnya.
Selasa, 17 Desember 2024
Ida Royani, penulis buku Epiphany.

Posting Komentar