15 DAYS CHALLENGE

 


15 DAYS CHALLENGE

7 - 21 November 2020

_____________________________________________


Disclaimer!

Tulisan ini adalah tulisanku empat tahun lalu, hanya copy paste dari feed Instagram. Sekarang aku hanya merevisi tanda baca dan typo saja, esensi tulisan lama masih asli. I mean, kalian bisa melihat tulisanku ketika awal-awal mulai nulis. FYI, aku mulai serius menekuni literasi tahun 2020, tepatnya bulan Juni. So, let's check it out!


=== START ===


🏆 Day 1

GERBANG PERMULAAN

Setiap rentetan waktu adalah perjalanan. Setiap perjalanan adalah pengalaman. Setiap pengalaman adalah pembelajaran. Tak ada yang kebetulan, tak ada yang sia-sia. Setiap langkah yang ditempuh adalah alur yang diciptakan oleh-Nya.

Semuanya berawal dari sebuah keputusan yang kupilih dulu. Tidak ada paksaan dari orang tua maupun keluarga dan orang-orang sekitar. Tidak ada alasan yang kuat waktu itu, hanya mengikuti naluri dan keinginan hati.

Tak pernah terpikirkan sebelumnya bagaimana kehidupan selanjutnya setelah aku mengutarakan maksud kepada Ayah dan Ibu. Aku hanyalah bocah yang baru lulus sekolah dasar, mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Namun, hal yang paling aku syukuri adalah mereka tak pernah memaksakan kehendak, membebaskan aku memilih jalan yang kuinginkan.

Kata Ayah, "kamu yang akan menjalani, jadi pilihan ada di tanganmu"

Masih kuingat ketika pertama kali memasuki gerbang sebuah pondok pesantren untuk melakukan pendaftaran siswa baru. Melangkah memasuki pekarangan yang sangat luas ketika pertama kali mengunjunginya. Kini, aku sudah beranjak memasuki sekolah tingkat menengah. 

Aku ditemani Ayah pergi menuju aula utama pondok pesantren tersebut. Mengambil formulir pendaftaran lantas mengisi data diri sebagai siswa baru di sana.

Aku yang waktu itu masih sangat polos bertanya kepada Ayah, "Yah, aku pilih SMP atau MTs?"

Kemudian Ayah hanya menjawab, "ya MTs lah"

Dalam hati aku bertanya, "apa bedanya SMP dengan MTs.?"

Aku hanya tahu SMP waktu itu.

Sebelum pulang, Ayah mengajakku mampir melihat-lihat pondok yang akan kutempati tiga tahun kedepan. Aku memang tinggal di pondok, tapi bukan di asrama seperti santri pada umumnya. Karena menurut Ayah, aku masih terlalu kecil untuk tinggal di asrama yang sangat ramai. Ayah memilih menempatkanku di gedeng (baca: rumah) dato' pendiri pondok.

Kisah ini dimulai sejak langkahku memasuki sebuah gerbang bertuliskan "PONDOK PESANTREN DARUL MUHAJIRIN". Pondok pesantren tertua yang terletak di jantung kota Praya. Rumah kedua untuk seorang anak kecil bergelar penuntut ilmu bernama "Aku".

Lombok, 7 November 2020


🏆 Day 2

PAMIT

Ketika berkunjung ke gedeng dato' sebagai kunjungan pertama, kebetulan sekali beliau (TGH. M. Najmuddin Makmun) sedang keluar untuk mengitari pekarangan. Namun, beliau tidak berjalan sendiri melainkan dengan kursi roda dan beberapa pengiringnya. Aku sudah mengira beliau adalah orang penting, dan benar saja ketika Ayah memberitahuku bahwa beliau adalah pendiri pondok pesantren ini. 

Aku masih dibilang beruntung karena bisa bertemu secara langsung ketika pertama kali ke sana, bahkan aku sempat menyalami beliau. Ya, karena usia dan kesehatan yang perlu diperhatikan, sangat jarang untuk orang-orang bisa berinteraksi secara langsung.

"Semoga beliau sehat selalu" batinku.

Selepas itu Ayah mengajakku bertemu dengan ummi (istri dato'). 

Aku hanya mendengarkan perbincangan Ayah dengan ummi Syarifah, hanya sesekali menjawab ketika ditanya kemudian diam setelahnya. Waktu itu aku pikir akan langsung pulang bersama Ayah setelah pembicaraan selesai, ternyata aku akan tinggal langsung selama tiga hari sebagai masa percobaan. Katanya, tanggal dan hari itu bagus untuk membuatku lebih betah nantinya. Tak ada pakaian ganti yang kubawa, karena keputusan ini mendadak. Namun, aku hanya mematuhi apa kata Ayah. Selebihnya nanti dia yang akan mengurus sisanya, mengantarkan beberapa pakaian untuk dipakai selama tiga hari.

Setelah Ayah pergi, Ummi mengajakku berkeliling dengan dibumbuhi percakapan-percakapan ringan sebagai perkenalan kami. Kebetulan di hari yang sama ada dua murid baru lainnya yang juga akan tinggal. Berbeda denganku, mereka lebih siap dengan kedatangannya. Jadi, aku tidak sendirian melewati masa percobaan. Serasa menginap di rumah teman, sensasi mondok belum terasa.

Tiga hari berlalu dengan kedatangan Ayah menjemputku. Masa libur masih ada seminggu lagi sebelum sekolah mulai aktif dan aku akan resmi menjadi siswa baru Madrasah Tsanawiyah Putri Darul Muhajirin. Aku kembali ke rumah untuk mempersiapkan semuanya, mulai dari barang pribadi, peralatan masak. Tak lupa pula untuk berpamitan kepada keluarga.

Satu persatu rumah keluarga kudatangi. Aku mulai terbiasa, tak ada sedih sama sekali, melainkan bahagia. Aku juga menyempatkan diri untuk berpamitan kepada guru ngajiku. Karena setelahnya, aku mungkin akan jarang ngaji ke sana lagi. Beliau hanya berpesan untuk belajar dengan baik dan menjaga diri dengan baik. Doa-doa dan harapan dari mereka menjadi sebuah kekuatan yang membuatku lebih tegar.

Tiba saatnya hari keberangkatan, banyak keluarga yang mengantarku sampai pondok. Sesampainya di sana, kutemukan suasana baru untuk pertama kalinya. Papuk (baca: nenek) terlihat mengusap air matanya, begitu juga beberapa keluarga yang lain. Aku melirik ke arah Ibu, beliau terlihat sedih dari raut wajahnya, tetapi tidak sampai menangis. Sekarang aku tahu alasannya, karena ini adalah jalan menuntut ilmu, jalan berjuang, maka Ibu mengikhlaskan kepergianku dan tak mau membuatku bersedih karena tangisnya.

Jika dibandingkan dengan teman-teman yang lain, waktu itu hanya aku yang tidak menangis. Aku berusaha kuat supaya air mataku tak jatuh bersamaan dengan kata perpisahan.

Setelah merapikan barang-barang, hari beranjak sore. Semburat jingga mulai menampakkan dirinya. Tiba saatnya kami akan ditinggal pulang oleh keluarga. Aku menyalami mereka satu persatu, tak sedikit yang memberikan beberapa lembar uang sebagai bekal di sana. Terakhir aku menghampiri ayah dan ibu, menyalami mereka, meminta restu dan ridho darinya. Berharap dengan restu orang tua, setiap langkahku akan dipermudah.

"Tak ada yang lebih baik dari restu orang tua dan guru yang membersamai langkah ini melewati jalan-Nya"

Lombok Tengah, 8 November 2020


🏆 Day 3

AWAL KEHIDUPAN YANG BARU

Ahad, hari terakhir libur panjang. Selepas turun dari musholla dan balik ke pondok, kudapati suasana ramai dengan wajah-wajah baru yang tak kukenal. Tak heran, karena saat itu hari terakhir santri baru diantar untuk selanjutnya dilepas mandiri oleh keluarga masing-masing. Aku melihat mereka menangis tersedu sambil memeluk wanita paruh baya yang kutebak ibunya. Hah, ternyata hanya aku yang tak menangis kala itu.

Satu demi satu ditinggal pulang keluarganya. Lama-kelamaan hanya tersisa kami, santri-santri baru yang selanjutnya akan menjadi teman dalam susah dan senang. Kehidupan baru akan dimulai. Perjalanan panjang menuntut ilmu dibuka dengan tangis haru melepaskan. 

Awalnya hatiku tak bergeming, tetapi saat azan magrib mulai berkumandang, entah darimana perasaan sepi itu mulai menjangkit. Aku berusaha menahan supaya tak menangis, tapi ternyata air mataku tumpah. Terbayang sosok Ayah dan Ibu yang biasanya ada di sisiku, kini aku hanya sendiri. Dadaku mulai sesak, aku pergi ke tempat yang sepi untuk menangis (sangat gengsi dilihat nangis orang lain). Pertahananku runtuh seketika.

Ketika aku terbangun, tak lagi kudapati Ibu yang selalu menyiapkan sarapan. Tak lagi kudapati Ayah yang selalu mengingatkan untuk sarapan sebelum berangkat sekolah. Yaa, sekarang untuk sarapan pun harus masak sendiri, dan mau sarapan atau nggak tak akan ada yang menegur, semua serba sendiri.

Untuk sarapan, aku memilih membeli nasi bungkus di sekolah karena tak sempat memasak. Nanti setelah pulang sekolah baru akan memasak untuk makan siang dan makan malam. Memasak? Ini pertama kalinya harus memasak sendiri. Dan alhasil nasi pertama yang kumasak tak karuan, gosong bawah dan atasnya, tetapi tengahnya masih lembek. Ah, sayang sekali. Kata kakak kelasku, ini karena berasnya terlalu banyak dan api kompornya terlalu besar sehingga bisa seperti itu. Oke, next kita coba lagi.

"Ada pelajaran berharga yang akan kau dapatkan namun kau akan sadar setelah semuanya berlalu"

Lombok Tengah, 9 November 2020


🏆 Day 4

PERKENALAN

Perkenalan adalah tahap awal dan sangat penting untuk keberlanjutan perjalanan. Tentu kita butuh teman berjuang, butuh teman berbagi. Selain teman, mengenal lingkungan juga perlu supaya dapat menyesuaikan diri. Tidak enak dong jika harus sendiri aja di tempat baru. Walaupun sulit, cobalah!

Ada tipe orang yang memang pendiam dan susah berbaur dengan orang lain. Namun, kita perlu ingat bahwa sejatinya manusia adalah makhluk sosial.

KITA TAK AKAN PERNAH BISA HIDUP SENDIRI

Catat dan ingat!!

Maka untuk kalian yang menyebut dirinya "introvert", cobalah untuk memulai pelan-pelan, cobalah membuka diri untuk orang lain.

Jika dibandingkan dulu semasa MTs dengan waktu Aliyah ataupun sekarang, aku merasa lebih bisa terbuka dan mudah bergaul dengan orang lain. Kalaupun dulu awal-awal masih malu-malu, ya nggak masalah, namanya juga baru. Bagaimana tidak, seorang bocah yang datang jauh-jauh dari desa sana akan memulai menjalani kehidupan di tempat baru tanpa mengenal siapa pun.

Seperti sekolah pada umumnya, hari pertama digunakan sebagai ajang perkenalan, baik itu antar siswa ataupun guru. Satu persatu mulai menyebutkan nama dan asalnya. Aku mulai tahu nama-nama teman sekelasku. Ada yang memang asli Praya, ada yang dari ujung selatan sana (Selong Belanak), sedangkan aku hanya berdua dari Bunkate.

Kalaupun dulu semasa SD aku suka duduk di deretan bangku paling depan, sekarang aku lebih memilih sedikit ke belakang tapi bukan paling belakang. Aku masih ingat, bangku deretan ketiga pojok kanan dekat jendela, posisi strategis untuk melihat papan dan menyimak penjelasan. Mata pelajaran baru mulai kukenal seperti bahasa Arab, SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), Akidah Akhlak, Fikih, dan lain-lain.

Lombok Tengah, 10 November 2020


🏆 Day 5

PEMBELAJARAN

Apakah kalian tahu perbedaan bahasa Sasak biasa dan bahasa Sasak halus? Aku yakin kalian tahu jadi nggak perlu dijelaskan di sini ya, hehe, toh ini bukan tentang pelajaran bahasa Sasak :v

Oke sedikit saja, bahasa halus digunakan ketika kita berbicara dengan orang yang lebih tua atau untuk menghormati lawan bicara kita (koreksi kalau salah). Lalu, apa hubungannya dengan chapter kali ini?

Selain belajar di sekolah, tentu saja kita bisa belajar dari lingkungan dan orang-orang sekitar bukan? Yah, pernah dengar bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap pertemuan adalah pembelajaran? Sebenarnya kalimat itu mengandung makna bahwa kita bisa belajar di manapun dan kapanpun, setuju? Setuju nggak nih? Kalau nggak setuju biar nggak usah dilanjut. Kidding, kidding... Okay sepakat setuju berarti kita lanjut ya.

Sebelum tinggal di pondok, memang orang tua sering mengajarkan bagaimana etika dan sopan santun ketika berbicara dengan orang lain. Entah kepada siapapun, baik itu orang yang lebih tua maupun muda tetap harus berbicara dengan sopan. Akan tetapi pelajaran seperti menggunakan bahasa halus belum terlalu kupelajari. Dan di pondok, ketika berbicara dengan ummi harus menggunakan bahasa itu. Pertama kali memang tidak bisa, namun pelan-pelan ummi mengajarkan beberapa kosakata seperti:

> Tiyang, artinya "saya", atau ketika dipanggil akan menyahut dengan kata itu

> Nggih, artinya iya

> Mindah, artinya tidak tahu

> Mangkin, artinya nanti

Dan lain sebagainya.

Dengan keseringan yang aku lakukan setiap kali berbicara dengan ummi membuatku terbiasa menggunakan kosa kata tersebut. Ketika berbicara dengan guru pun, aku mencoba menerapkan kata-kata itu. Dan ya, sampai sekarang akhirnya terbiasa dengan "bahasa halus" meskipun belum tahu semuanya. Ala bisa karena biasa kalau kata orang. Pelajaran seperti itu mungkin tidak akan kudapatkan saat di dalam kelas.

Jadi kesimpulannya apa?

Setiap tempat adalah sekolah, dan setiap pertemuan adalah pembelajaran.

Ilmu itu bukan hanya tentang Matematika, Fisika, Kimia, ataupun Biologi. Ada banyak jenis ilmu seperti ilmu berbicara, ilmu bersikap, ilmu menjalani hidup, semua itu ada ilmunya. Seraplah ilmu itu darimanapun asalnya, bagaimanapun bentuknya, dan dari siapapun yang mengucapkan.

Pepatah Arab berbunyi:

"Lihatlah apa yang disampaikan, dan jangan melihat siapa yang menyampaikan"

Lombok Tengah, 11 November 2020


🏆 Day 6

RUTINITAS

Pada umumnya kelas mata pelajaran dimulai pukul 07:15, tetapi kami harus datang sebelum pukul 06:30 karena ada ngaji kitab selama kurang lebih 45 menit (06:30 - 7:15). Selain di pondok, rutinitas pagi di sekolah sebelum belajar adalah mengaji. Berbagai jenis kitab seperti Perukunan, Mabadi'ul Fikih, Akhlakul Banat, dan lainnya sebagai bahan kajian. Sebelum mengaji dimulai (sembari menunggu ustadz/ustazah), amalan-amalan pagi sebagai teman menunggu. Para siswi akan kebagian memimpin secara sukarela. 

Sangat tidak enak rasanya ketika datang terlambat dan harus ketinggalan pelajaran. Selain tidak bisa mencatat penjelasan dan mengartikan kitab per-kalimat (men-dabit, istilahnya), kami juga harus menerima hukuman sebagai langkah pendisiplinan. Dan juga, selain ada Ujian Akhir Semester (UAS) kami juga ada ujian kitab. Oleh karenanya kami harus memperhatikan setiap penjelasan ustadz dan ustazah.

*Etss..Jangan salah paham ya, ngaji/belajar bukan tentang ujian yang satu-satunya penting, tapi apa? ILMU!!!

Selepas ngaji kitab barulah proses belajar mengajar di kelas akan dimulai. Kurasa tak ada yang beda dengan sekolah pada umumnya. Hanya saja, mungkin mata pelajaran kami yang lebih banyak. Jam sekolah hanya sampai Zuhur waktu itu, dan sebelum pulang sekolah kami harus shalat berjamaah terlebih dahulu. 

Di pondok tempat aku tinggal belum ada ustazah yang secara khusus mengajari kami sehingga aku memilih ikut belajar di asrama. Ummi tidak pernah melarang, beliau mendukung antusiasku ketika izin. Jarak asrama dengan pondok tempatku tinggal tak jauh karena memang masih satu kawasan. Hanya beberapa langkah saja. Dan biasanya gedung kelas sebagai tempat kami ngaji siang.

Selepas pulang sekolah waktu istirahat hanya sebentar, cukup untuk masak dan makan siang. Tidur siang? Mungkin sangat jarang, hanya diwaktu libur ngaji saja. Ya, pukul 14:00 rutinitas ngaji akan dimulai sampai azan asar. Dan dari sana aku mengenal anak-anak asrama yang sama-sama bergelar santri, hanya saja tempat tinggal kami berbeda.

Bertemu banyak teman rasanya menyenangkan. Jika di sekolah hanya bisa mengenal teman kelas, maka di sinilah ajang perkenalan dengan tetangga kelas. Kami di sini, berjuang bersama, membawa serta harapan orang tua kami.

Lombok Tengah, 12 November 2020


🏆 Day 7

MALAM YANG DIRINDU

Meskipun tidak tinggal di asrama, tetap saja kegiatan-kegiatan asrama kami ikuti, baik itu kegiatan siang maupun malam. Contohnya ketika muhadarah yang diadakan setiap malam Rabu di aula utama. Namun, bukan kegiatan ini yang akan aku ceritakan pada chapter ini :v Kangen sih, tapi lebih kangen yang lain.

Kegiatan malam Jum'at selain yasinan juga ijtima' bersama di musholla. Kemudian malam minggu waktunya untuk berzanji. Entah mengapa rasanya tenang dan tentram hati ini ketika berada di antara mereka yang sedang membaca amalan dan shalawat Nabi. Malam minggu yang berfaedah.

Wahai santri-santri Darul Muhajirin, tidakkah kalian rindu masa-masa itu? Aku? Tentu saja sangat rindu. Ingin rasanya malam mingguan di sana. Terbayang suasananya, ramai riuh dengan lantunan shalawat. Menggema memenuhi udara, menembus jiwa raga, menelusup masuk ke relung sukma.

Benar katanya, ketika semuanya sudah berlalu akan terasa rindunya. Buat kalian yang masih sempat menjalani, ikuti dengan sepenuh hati tanpa tapi. Esok lusa kalian akan merasakan seperti kami. Meski raga tak di sana tetapi rasa akan tetap membersamai. Biarkan rindu ini terbawa angin sepi, berhembus pelan lantas singgah ditepian.

Malam-malam yang menenangkan. Memberi warna sebagai kenangan, indah untuk diingat, susah untuk dilupakan. Berlalu dengan mereka yang memiliki tujuan sama, menuntut ilmu. Salam santri.

Lombok Tengah, 13 November 2020


🏆 Day 8

AKU SANTRI

Mendengar kata mondok, nyantri, apa yang terlintas dibenak teman-teman? Hidup mandiri? Kesepian? Gak enak? Pisah dengan orang tua? Ya, semuanya benar kurasa. Nyantri mengajarkan kita hidup mandiri, jauh dari orang tua. Masak sendiri, beres-beres sendiri, apa-apa harus sendiri. Ngatur keuangan pun harus sendiri, pintar-pintar me-manage uang. Kalau kesepian terkadang iya, pada beberapa waktu ketika sangat rindu dengan rumah. Masalah enak atau enggaknya sih, dimanapun kita berada pasti ada enak ada nggaknya kan. Tapi percaya deh, nyantri itu banyakan enaknya.

Bagian nggak enaknya ketika telat dikunjungi orang tua, terus nangis sendiri haha. Selain itu ketika merasakan kekeringan yang berkepanjangan. Jangankan mandi, untuk wudhu dan masak pun susah. Bagian enaknya bisa kenal banyak orang, punya banyak teman, belajar mandiri dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan kenangan terus bisa diceritakan sampai sekarang.

Pahit manis, suka duka, susah senang, telah kurasakan ketika menjalani kehidupan menjadi santri selama enam tahun. Bayangkan, selepas lulus sekolah dasar harus langsung pisah dari orang tua. Namun, aku bersyukur angin takdir membawaku ke sana. Membawa serta jiwa dan raga singgah di sebuah pondok pesantren guna menuntut ilmu. Waktu memberikan kesempatan untukku merasakan bagaimana kehidupan seorang santri.

Aku dan kamu yang pernah berjuang bersama di sana. Untuk kamu yang sekarang sedang berjuang di sana. Kita sama, kita pernah menyandang gelar santri. Jangan pikir selepas lulus kita bukan lagi santri. Sampai detik ini kita tetap santri, meski raga tak di sana, tetapi prinsip kita tetap sama ketika masih nyantri.

I know, tak semua orang baik. Tapi ayolah, jangan merusak fitrah santri yang seharusnya berakhlak baik, terus berusaha memperbaiki diri. Tanamkan jiwa santri pada diri kita. Ingat selalu pesan-pesan guru kita. Teriakkan dalam hati, AKU SANTRI!!

Lombok Tengah, 14 November 2020


🏆 Day 9

DRAMA PONDOK

Let's check it out, beberapa drama yang pernah kulihat dan atau alami di pondok dulu:

Gak akan asing melihat teman pondok yang suka nangis karena ingin pulang, nangis telat dijenguk, dan nangis-nangis karena yang lainnya :v

Bener gak nih?

Mana suaranya yang pernah nangis atau pernah lihat orang nangis? Iya, apalagi di awal-awal mondok, bulan-bulan pertama masih sering melihat teman-teman sekamar nangis ingin pulang dengan dalih tidak betah. Segala alasan dicari supaya bisa izin pulang. Haha, lucu kalau diingat-ingat sih. Ada yang nangis di dekat tembok sambil meluk bantal, ada yang nangis di balik selimut juga supaya tidak ada yang tahu.

Ketika telat bangun pagi, apalagi nggak ikut berjamaah subuh, harus dihukum diam di dalam kamar dan dikunci dari luar. Sampai jam-jam tertentu baru akan dibukakan pintu. Tak perduli apakah hari itu libur atau tidak, tetap harus menanggung konsekuensi seperti terlambat ke sekolah.

Pernah suatu hari aku bangun kesiangan karena malamnya begadang, dan akhirnya aku berdua dengan teman sekamar dapat hukuman itu. Sampai pukul 09:00 pagi tidak boleh dan tidak bisa keluar kamar, yups terkunci. Untungnya sedang halangan dan hari libur, jadi nggak perlu risau masalah sekolah.

Setiap sore menjelang magrib, jadwalnya tilawah bersama. Jika saja tidak ada terdengar suara tilawah, ummi pasti akan mengecek kamar kami satu per satu. Kebetulan di sana hanya tersedia tiga kamar, jadi mudah dikontrol. Seandainya ada yang tidak tilawah padahal sedang tidak halangan, akan kena imbas seperti omelan, sapu lidi yang mendarat ke tangan dan lain sebagainya.

Next, jadwal weekend pasti bersih-bersih, entah itu bersihin kamar tidur, halaman pondok, kamar mandi, kompor, dan lain sebagainya. Intinya hari Ahad adalah waktunya pembersihan. Hal kecil semacam membersihkan kompor pun akan dipantau oleh ummi. Beliau orangnya sangat bersih, sangat risih ketika melihat sedikit saja sampah berserakan.

Hal-hal semacam itu sangat indah untuk dikenang. Perihal teman yang sering nangis terkadang menjadi bahan obrolan ketika bercerita sekarang. Masalah bangun pagi, tilawah, pembersihan pun tetap terbahas sampai detik ini. Pembelajaran yang secara tidak langsung melatih habit (kebiasaan) di hari mendatang.

Didikan-didikan ummi dulu terasa manfaatnya sampai sekarang. Memang setiap sesuatu itu tidak ada yang sia-sia meski manfaatnya belum dirasakan sekarang. Boleh jadi, dua atau tiga bahkan lima tahun kedepan baru akan terasa indahnya.

Lombok Tengah, 15 November 2020


🏆 Day 10

KEHILANGAN

Tak terasa satu tahun berlalu dengan kehidupan pondok yang penuh rasa, beragam. Tiba saatnya libur panjang setelah menyelesaikan ujian akhir semester dan waktunya pulang kampung. Ah, memang saat-saat yang paling ditunggu santri yaitu kesempatan berkumpul bersama keluarga. Akhirnya aku akan menjadi siswa kelas VIII setelah ini. Bahagianya....

Bagaimana tidak terasa bahagia, selepas dulu selalu risau karena belum bisa memasak dan takut tidak betah malah rasanya berlalu begitu saja. Jadi teringat ketika dulu aku bertanya pada kakek resep-resep makanan untuk dimasak setiap hari dan tentu dengan catatan. Lucu sih kalau diingat, padahal setelah mondok catatan itu tidak pernah dibuka, masak semaunya.

Selain kebahagiaan itu, datang pula sebuah kabar duka mengiringinya. Setelah beberapa hari di rumah, suatu hari muncul sebuah notifikasi SMS tanda pesan masuk dari teman pondokku. Pesan singkat yang sangat mengejutkan, sontak membuatku terdiam. Pesan itu berisi berita duka bahwa dato' (TGH. M. Najmuddin Makmun) telah meninggal dunia, Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.

Mendengar kabar itu, aku langsung mengabari Ayah kemudian dia bergegas ke sana tanpa mengajakku karena hari sudah sore. Katanya kami akan pergi besok pagi.

Begitu terasa, namun seakan tidak percaya beliau pergi secepat itu. Akan tetapi begitulah kenyataan, maut ada di tangan Tuhan. Meskipun tidak selalu bisa bertemu dan berinteraksi dengan beliau, namun kehilangan itu sangat terasa. Mengingat setiap hari ummi memanggilku untuk melipat baju-baju beliau, membersihkan rumah demi menjaga kesehatan beliau, membantu ummi menyiapkan bubur dan lainnya semakin membuat air mataku ingin menetes.

Momen terakhir bertemu sebelum akhirnya beliau dirawat di rumah sakit adalah ketika ummi mengizinkan kami semua ziarah ke beliau. Aku ingat ketika selesai membaca surah Yasin dan do'a bersama kemudian bergiliran menyalami dato' sebelum kembali ke kamar, tangan beliau mendarat di atas kepalaku. Perasaan damai menyesap hanya dengan sentuhan tanpa kata-kata.

Setelah malam itu, aku tidak pernah lagi bertemu dato', karena beliau harus rawat inap di rumah sakit. Pun ketika beliau sudah dibawa kembali ke gedeng-nya juga tetap tidak bisa bertemu lagi, hanya bisa melihat di balik jendela. Beliau terbaring di sebuah kamar khusus yang sudah disterilkan untuk menjalani perawatan.

Saat-saat itu, setiap hari santri putra dan putri bergiliran ziarah dan membaca surah Yasin, serta doa bersama. Tepat 2012 yang lalu beliau meninggalkan kami.

Ketika hari pemakaman tiba, dari pagi sampai sore tak henti-hentinya orang-orang berdatangan seperti lautan manusia. Aku yang datang bersama ayah dan ibu paginya menyaksikan begitu banyak motor berjejer di sepanjang jalan, baik itu gerbang utara maupun selatan sampai rasanya tak ada jalan masuk. Kami kehilangan sosok beliau yang sangat kami cintai. Langit nampak mendung di sore hari, gerimis tipis-tipis mengiringi pemakaman. Burung-burung berterbangan di atas pohon beringin halwat tempat beliau akan dimakamkan. Semesta memperlihatkan dukanya kepada kami semua. Beliau dimakamkan dekat gedeng-nya, masih di dalam kawasan pondok pesantren. Kini jika kami rindu hanya bisa mengunjungi beliau di sana.

Lombok Tengah, 16 November 2020


🏆 Day 11

BACK TO SCHOOL (1) - BAHASA ARAB

Melepas masa kelas VII, anak tangga sudah terlewati selangkah. Mengingat lagi hari-hari yang sudah berlalu, tidak buruk. Cukup bagus sebagai kesan pertama dan puzzle pertama. Kenangan...

Mengapa chapter ini tentang Bahasa Arab? Yah, alasan utamanya adalah bisikan-bisikan halus merambat ke telinga, riuh suasana terngiang kala itu. Ingatkah dengan sensasinya wahai kalian alumni MTs. DM Putri? Aku yakin kalian pasti ingat :v

Setiap kelas Bahasa Arab dimulai, Ibu guru akan menyapa dengan pertanyaan khas beliau:

"ماذا درسنا الآن؟".

Sontak semua akan menjawab kompak:

"الدرسنا الآن اللغة العربية؟".

Suara yang lantang, tatapan yang tajam, sungguh tak akan terlupakan.

Step belajar Bahasa Arab dimulai dari mengartikan مفرادة (kosakata), belajar حور (percakapan) dengan teman sebangku, penjelasan, kemudian hafalan قراة (bacaan). Khusus dibagian terakhir, hafalan قراة adalah tugas mingguan.

Jadi, setiap selesai kelas, kami akan ditugaskan menghafal satu lembar bacaan Bahasa Arab bersama terjemahannya. Awal pertama memang kaget, namun lama kelamaan terbiasa. Bagi yang tidak menghafal akan kena imbas berupa menulis ulang (merangkap) قراة beserta artinya sebanyak sepuluh kali. Itung-itung latihan nulis.

Aku sampai detik ini belum pernah merasakan yang namanya merangkap itu, hehe Alhamdulillah. Rajin menghafal? Yah bisa dibilang lumayan rajin. Menghafal tidak harus seluruhnya, setengah juga bisa kata Bu guru. Jadi, aku selalu berusaha supaya ada yang akan aku setor.

Teknis menghafal dengan maju di depan kelas kemudian melafalkan dengan suara yang cukup besar supaya semuanya bisa dengar. Satu persatu siswi akan ditunjuk maju. Perasaan deg-degan, grogi, malu, ng-blank di tengah hafalan, semua sudah kurasakan. Sorot mata teman-teman sekelas rasanya menusuk, membuat mentalku ciut, namun kewajiban harus ditunaikan. Lama-lama biasa saja rasanya.

Lombok Tengah, 17 November 2020


🏆 Day 12

BACK TO SCHOOL (2) - SENI BUDAYA

Hallo readers!!

Mau nanya, kalian kalau pelajaran seni budaya belajar apa? Menjahit? Melukis? Atau?

Kalau di sekolahku belajar KALIGRAFI, seni tulis Al-Qur'an. Aku mulai bertemu Kaligrafi sejak dulu masih mengaji di TPQ dekat rumah. Berkenalan ketika masuk Madrasah Tsanawiyah, PDKT pas Madrasah Aliyah dan masih jalan sampai detik ini. Langgeng yes, haha...

SENI ITU CINTA. Untuk orang-orang yang tidak tertarik pada seni, akan cepat merasa bosan. Berbeda dengan mereka yang suka, akan bertahan sampai kapanpun. Rasanya akan kurang ketika sehari saja tidak bertemu, begitulah konsepnya. Kalau mau bertahan lama coba dulu mulai suka dan cinta. Dengan Kaligrafi pun seperti itu.

Bagiku, kaligrafi adalah salah satu cara mengembalikan mood. Ketika pusing dengan tugas, lelah beraktivitas, nggak semangat, maka hal yang akan kulakukan adalah menulis kaligrafi. Selain Kaligrafi, ada sih yang bisa balikin mood, masih saudaraan sama kaligrafi yaitu menggambar. Aku suka keduanya.

Membicarakan kaligrafi, aku mau sedikit sharing tentang ini. Jadi, kaligrafi itu dibagi menjadi empat jenis yaitu naskah, hiasan mushaf, dekorasi dan kontemporer. Yang paling berbeda dari keempat itu adalah kontemporer, karena untuk tulisan yang digunakan tidak memperhatikan kaedah. Mau tahu selengkapnya atau mau lihat contohnya silahkan search, ya.

Kemudian untuk khat (jenis tulisan) dibagi menjadi delapan, yaitu khat Naskhi, Tsulus, Riq'ah, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Raihani dan Khaufi. Berbagai macam khat ini terbagi menjadi khat wajib dan pilihan. Khat Naskhi sebagai khat wajib dan selain itu adalah khat pilihan.

Pengalaman bersama kaligrafi, dulu pernah ikut lomba tingkat sekolah (MTs. Putra dan Putri) dalam rangka ulang tahun IKADM (Ikatan Keluarga Alumni Darul Muhajirin) dan Alhamdulillah dapat juara 2. Kemudian pas kelas VIII pernah ikut lomba kaligrafi bertempat di MTsN. Model Praya. Aku perwakilan dari MTs. Putri dan Kak Sauqi (Juara 1 pas hari ultah IKADM) sebagai perwakilan MTs. Putra. Cabang yang dilombakan adalah naskah waktu itu. Belum sempat dapat juara sih hehe, tapi pengalamannya dapat.

Lombok Tengah, 18 November 2020


🏆 Day 13

AKU, KAU, DAN KALIGRAFI

Masih tentang dia di chapter sebelumnya. Tentang Kaligrafi yang tak pernah habis diceritakan. Terlalu lama hingga jatuh cinta pada tahap akhir. Masih terus setia meski belum sepenuhnya bisa. Kalau dihitung berarti sekitar 10 tahun sudah aku bersamanya.

Sedikit tips dari aku seputar kaligrafi:

1. Cinta

Segala sesuatunya berawal dari cinta. Untuk menumbuhkan semangat dan motivasi belajar Kaligrafi perlu ditanamkan rasa cinta terlebih dahulu. Bertahan atau enggaknya tergantung seberapa dalam cintamu kepadanya.

2. Latihan

Hal yang paling utama tentu saja adalah actionnya. Percuma belajar begitu banyak teori namun tidak ada aksi nyata. Latihan dibutuhkan setiap saat guna meningkatkan kemampuan.

3. Konsisten

Selain aksi nyata, perlu kekonsistenan juga. Pernah dengar tentang "memulai itu mudah, yang sulit itu Istiqomah?" Mulailah belajar konsisten dari sekarang ya. 

Oh ya, aku mau cerita tentang sanggar kami di Madrasah Aliyah DM, BTS. For your information, BTS itu "Ba Tur Sanggar". Aku bergabung dengan BTS semenjak lulus dari Aliyah. Telat sekali yah, hehe. Tapi is oke lah, nggak masalah, yang penting rasa cinta ke Kaligrafi nggak berkurang. 

Terimakasih aku ucapkan untuk semua guru-guruku yang pernah mengenalkan Kaligrafi kepadaku. Teruntuk kak Ansori, Bapak Ardian, Bapak Akhyar, Kak Riyan, Kak Alfi, Kak Zaky, dan lainnya yang tidak bisa kusebutkan semuanya. Semoga Allah membalas kebaikan mereka, guru-guruku, amiin.

Lombok Tengah, 19 November 2020


🏆 Day 14

TENTANG MEREKA

Bukan hanya ilmu dan bekal hidup yang bisa kudapatkan di sana. Ada banyak hal berharga yang datang silih berganti, termasuk mereka. Ya mereka, teman-teman seperjuangan sedari awal sampai akhir.

Berjuang tak harus sendiri, berjuang tak mesti bercerai berai, berjuang harusnya memang bersama. Kata seseorang begini, "berjalan sendiri akan membuatmu sampai lebih cepat, namun berjalan bersama membuatmu pergi lebih jauh"

Bagaimana, setuju nggak?

Teruntuk teman-temanku, sahabat-sahabatku, semoga kita bisa menggapai apa yang kita tuju. Awal tahun pertama masih belum terlalu kenal dan akrab dengan orang lain. Tahun kedua baru mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertemanan. Tahun ketiga dan seterusnya pelan-pelan dapat menjangkau semua kalangan.

Untuk teman-teman pondokku yang tak bisa kusebutkan satu persatu, untuk teman-teman kelasku, cuma mau bilang terima kasih aja :v Terimakasih sudah mau berjuang bersama. Menghadapi lika-liku dan segala bentuk drama bersama.

Tuhan telah berbaik hati mempertemukanku denganmu. Hadirmu memberikan berjuta rasa yang luar biasa. Tangis, tawa, bahagia dan air mata pernah kita lewati bersama.

I miss you so much❤️❤️

Lombok Tengah, 20 November 2020


🏆 Day 15

PONPES DARUL MUHAJIRIN

"Jika rindu, pulanglah" 

Mungkin begitu kalimat yang tepat untuk menggambarkan rumah kedua ini. Ketika lelah, sedih, resah, selain rumah, tempat inilah yang menjadi teman paling nyaman. Sekedar melepas rindu yang lama terpendam.

Pondok pesantren Darul Muhajirin Praya, tempat tumbuh kembangnya kenangan pahit manis. Tahukah kenapa chapter pertama menggunakan gambar itu? (Yok cek lagi) Karena bagiku, Darul Muhajirin adalah rumah tempat kembali setelah pencarian panjang.

Suasananya masih terngiang di ingatan. Momen-momen bersama masih terbayang di pelupuk mata. Rasa-rasanya baru kemarin aku kelas satu MTs. Ternyata, sudah dua tahun lamanya tak tinggal di sana lagi. Waktu memang terasa cepat ketika menengok ke belakang. Semoga berkah untuk setiap perjalanan ini.

Mau cerita sedikit, jadi tulisan ini dan sebelumnya lahir karena ada challenge menulis selama 15 hari untuk melatih konsisten. Challenge ini sebagai langkah awal untuk membuat buku. Cerita-cerita ini lahir dari pengalaman selama masih menjadi santri. Sebenarnya masih banyak tapi segini aja dulu ya hehe :v

Chapter ini sebagai last chapter challenge. Cerita selengkapnya InsyaAllah di karyaku, do'akan yah semoga bisa dibukukan. Semoga setiap tulisanku bermanfaat. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya. See you next time🤗

Lombok Tengah, 21 November 2020


=== END ===


Hahaha, ternyata begini bentukan tulisanku dulu T_T

Pas dibaca ulang, "wah, kok begini sih, kok nggak nyambung. Ih, harusnya begini loh, mana titik komanya salah pula."

Wajar lah ya, namanya juga masih baru belajar nulis, masih newbie banget.

But ya, benar katanya:

"Jalan saja dulu, jangan berharap menjadi yang terbaik, lakukan saja sebisamu. Kelak, kamu akan tumbuh tanpa kamu sadari"

Dan sekarang aku merasakan tulisanku mulai berkembang. Semakin lama semakin terasah. Inilah proses.

Anyway, sekarang 21 Januari 2024.