SEBENARNYA APA?
Sudah lama sekali rasanya tidak menuliskan kalimat panjang di sini. Namun, sebenarnya aku juga tidak tahu akan ke arah mana tulisan ini selanjutnya.
Memang benar, kunci hidup bahagia adalah dengan 'tidak membandingkan' hidup kita dengan hidup yang dimiliki orang lain. Kita tidak pernah tahu perjuangan seperti apa yang orang lain lakukan sampai diberikan kehidupan yang membahagiakan. Kita juga tidak pernah tahu kehilangan seperti apa yang orang lain alami sampai Tuhan menggantinya dengan senyuman.
Ketenangan akan kita dapatkan saat kita bisa bersyukur atas apa yang kita miliki. Menjauhlah sejenak dari kata, 'Kenapa?'
'Kenapa bukan aku?'
'Kenapa harus seperti ini?'
'Kenapa dia mendapatkan lebih daripada aku?'
Dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.
Please, stop!
Ungkapan-ungkapan seperti itu adalah penyiksaan yang tidak kamu sadari terjadi pada dirimu sendiri. Sungguh rasanya tidak enak. Mengapa aku tahu? Sebelum itu aku tanya, 'manusia mana yang tidak pernah merasa demikian?'
Sebenarnya apa?
Apa yang kita harapkan dari bisikan-bisikan isi kepala dan hati yang demikian?
Pembenaran? Pengakuan? Apa?
Apa yang kita harapkan dengan melihat orang lain secara berlebihan?
Bukankah kita sudah memiliki bagian kita sendiri?
Lebih sedikit tidak masalah, itu hanya pandangan dengan kaca mata kita sebagai manusia.
Barangkali dalam pandangan Yang Kuasa, itu cukup untuk membayar lelah dan usahanya.
Sungguh...
Saat-saat membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah part paling tidak mengenakkan yang aku berikan kepada diriku. Sungguh, sungguh aku ingin menjauh dari hal-hal semacam itu. Mari berjalan di jalan masing-masing. Mari hidup lebih bahagia.
Bagaimana caranya?
Aku juga sedikit bingung harus menjelaskan seperti apa. Pada dasarnya, mari mencoba perlahan. Mengontrol hati dan pikiran dari hiruk-pikuk kehidupan orang lain. Mari hanya fokus pada diri sendiri. Fokus mengembangkan diri dan menuju level tertinggi. Mari selesai dengan diri sendiri lalu bahagia sampai kita lupa caranya terluka.
Lebih penting, mari tingkatkan syukur.
Katanya:
"Aku harus lebih baik dari dia, pikiran seperti itu sangat melelahkan." ~Min Yoongi
Kekhawatiran, kerisauan, ketidakmampuan, perbedaan, pada akhirnya akan menemui titik terangnya.
Tuhan itu adil...
Memberikan porsi yang pas untuk masing-masing orang. Apapun yang kita dapatkan pada dasarnya sudah sesuai takaran. Hanya bagaimana kita mencoba memahaminya dengan baik dan bijak.
Untuk diriku, yang mungkin masih sering 'melihat' orang lain dengan cara yang berbeda...
Ayolah, ayo fokus pada diri sendiri. Cukup sampai di sini. Hentikan aktivitas yang membuatmu merasa 'tidak sebaik mereka'.
Untukmu, yang mungkin juga merasakan hal yang sama denganku...
Maukah kamu berhenti sejenak dan katakan pada dirimu sendiri, 'seperti ini sudah cukup, ini bagianku, aku akan menjaganya dengan baik'.
Let's live happily!
Let's live without worries!
Tidak spesifik untuk siapa dan siapa. Tulisan ini untukku, untukmu, dan untuk siapapun yang singgah di sini.
Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut bahwa angan-angan sering menimbulkan ketamakan dan iri hati. Bahkan pada tindakan membandingkan yang menimbulkan kezaliman dan dosa besar. Membandingkan terjadi dalam hal harta, bagian dalam warisan, kedudukan, kecerdasan, nama baik, kecerdasan, dengan yang lebih baik. Namun demikian, ayat tersebut mengajarkan realistis. Ada angan-angan dan harapan yang dapat dicapai dan ada yang tidak, sesuai kemampuan diri (Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah II: 417-418)
Al-Qurthubi menjelaskan ayat di atas, bahwa berangan-angan untuk memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain itu tidak dilarang selama tidak menimbulkan hasad. Hasad dalam hal ini adalah menginginkan agama dan dunia orang lain hilang dari sisinya. Baik berkeinginan kenikmatan itu kembali padamu atau tidak. Lebih lanjut Al-Qurthubi menjelaskan tentang kebolehan ghibthah (iri hati yang baik); yaitu berkeinginan agar keadaannya seperti saudaranya tanpa ada harapan hilangnya kenikmatan pada saudaranya tersebut. Ia mengutip pendapat Al-Kalbi: janganlah kalian iri hati dengan harta, istri, pembantu dan tunggangan, akan tetapi hendaklah kalian mengatakan: “Ya Allah limpahkanlah rezeki sepertinya” (Imam Al-Qurthubi, Terj. Tafsir Al-Qurthubi V: 376-379)
Sumber tafsir:


Posting Komentar