WRITER JOURNEY
Hii!!
Sudah lama tidak menyapa readers.
Sudah tahun 2022, aja. Bagaimana resolusi tahun kemarin? Sudah tercapai semua,
belum?? BELUM!! Yuk perbaiki di tahun ini. Semoga segala resolusi tahun ini
bisa direalisasi. Amiin.
Aku mau cerita bagaimana perjalananku
menjadi seorang penulis sehingga bisa sampai pada tahap melahirkan 2 buku solo dan
belasan buku antologi selama kurun waktu kurang lebih satu setengah tahun.
Aku mulai serius menekuni literasi
sejak Juli 2020, beberapa bulan setelah pandemi dimulai. Niat awal hanyalah
mengisi waktu luang disela-sela perkuliahan. Karena pandemi lagi panas-panasnya,
semua kegiatan dilakukan #DiRumahAja termasuk kuliah. Mengingat banyaknya waktu
luang, aku memilih mengisinya dengan menulis, mengembangkan kegemaranku sewaktu
masih sekolah dulu. Ya, benar!! Aku suka menulis sejak masih sekolah, aku
selalu menulis buku diary waktu itu. Dan mengapa tidak aku mengembangkan itu
semua menjadi tulisan yang lebih terstruktur dan bisa dibaca oleh banyak orang
untuk dapat dipetik manfaatnya, bukankah begitu?
Karena terbersit angan seperti itu,
aku mulai mencari informasi tentang tulis-menulis dan mulai mengikuti seminar
kepenulisan sebagai pembelajaran awal menjadi seorang penulis. Setelah itu
kemudian dengan modal nekat, aku mengikuti project #NulisKolaborasi yang diselenggarakan
oleh Madani Training. Buku antologi yang berjudul “Ketika Masalah Membawa
Berkah” adalah karya pertama yang aku cetuskan bersama beberapa penulis
lainnya. Dengan adanya karya itu menjadi penggerak sehingga membuat kecanduan
untuk terus berkarya. Percayalah, ketika sudah memiliki satu karya, kita justru
akan semakin tertantang untuk melahirkan karya baru. Itu yang ku rasakan.
Setelah itu, aku terus menjelajahi
seminar kepenulisan, kelas kepenulisan, dan semua yang berkaitan dengan kepenulisan.
Karya kedua masih buku antologi yang ku tulis bersama tiga teman di Nulis
Kolaborasi dan satu teman seangkatan semasa sekolah dulu. Buku antologi puisi
berjudul “Berjuta Rasa Corona” lahir dari tangan kami.
Aku juga mulai mengikuti sebuah
komunitas menulis yang didirikan oleh mentor kami di kelas puisi Batch 4 yaitu
Komunitas Menulis Indonesia (KMI). Dari kelas inilah lahir buku solo pertamaku
pada Desember 2020 dengan judul “Semesta & Rasa” sebagai pemantik karya-karya
selanjutnya. Aku cukup aktif di komunitas tersebut sehingga mentor kami
memberikan amanah untuk memegang kendali KMID (Komunitas Menulis Indonesia
Daerah) yang dibentuk sebagai wadah menulis di setiap daerah. Karena aku
berasal dari Lombok, maka KMID Lombok menjadi tanggung jawabku. KMID baru yang
dibentuk pada bulan Maret 2021. Aku selaku coordinator pertama di KMID ini
merasa sangat berterimakasih kepada mentor kami Bang Okta yang telah
mempercayakan dan memberikan kesempatan untukku belajar.
Selain di KMI, aku juga belajar
literasi di berbagai tempat seperti SMI (Sekolah Menulis Indonesia), Tempa
Penulis, KMO (Komunitas Menulis Online), KNB (Kelas Menulis Buku) oleh Edwrite,
dan masih banyak lagi.
Beberapa karyaku sampai detik
ini diantaranya:
SOLO
1.
Semesta
& Rasa (2020)
2.
Epiphany
(2021)
Non
Fiksi Kolaborasi
1.
Ketika
Masalah Membawa Berkah (2020)
2.
Bukan
Titik Balik Biasa (2020)
3.
KREAKTIF:
Jangan Biarkan Kreatifitas Kita Mati (2020)
4.
Tetap
Bertahan dalam Keadaan yang Paling Brutal (2020)
5.
Menuju
Cahaya (2021)
6.
Agar
Ramadan Bukan Sekadar Lapar dan Haus (2021)
7.
Jurnal
Ramadan (2021)
8.
Mencintaimu
Tanpa Batas Waktu (2021)
9.
The
Best of Motivator (2021)
10.
Memeluk
Mimpi: Daya Juang Pemimpi Sejati (2021)
11.
Semoga
Al-Qur’an Berkenan Hadir dalam Hidupku (2021)
12.
BTS:
Belajar Tanpa Stres (2021)
Antologi
Puisi Kolaborasi
1.
Bait-Bait
Cinta di Ujung Pena (2020)
2.
Berjuta
Rasa Corona (2020)
3.
Sebuah
Jalan Menuju Pulang (2020)
4.
Impian
(2020)
Untuk dapat sampai pada titik ini
bukanlah suatu hal yang mudah, guys. Kita harus rela mengorbankan waktu untuk latihan
menulis, membaca banyak buku, mengikuti kelas menulis, webinar, dan menjelajahi
literasi. Belum lagi gangguan dari dalam diri seperti malas, tidak percaya diri
untuk mem-publish tulisan, takut tidak diterima, dan lainnya. Namun,
tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha dan berjuang atas apa yang
kita inginkan.
Selain menjadi coordinator KMID
Lombok, aku juga mendampingi project Nulis Bareng yang dilaksanakan oleh UKM
PS-Q (Pengembangan Studi Al-Qur’an) dan bimbingan menulis di sebuah pondok
pesantren. Aku melakukan ini semua semata-mata untuk belajar dan semoga bisa
menjadi lebih bermanfaat untuk orang lain.
Setelah melahirkan Epiphany, aku
belum mulai menulis buku lagi karena beberapa kesibukan kampus yang tidak bisa ditinggalkan
(prioritasnya lebih tinggi). Akan tetapi aku masih aktif nulis di sosial media
seperti postingan di feed Instagram atau hanya sekadar story WhatsApp. Hal demikian
ku lakukan untuk menjaga semangat menulis.
Jadi begitu ceritanya, yay 😊
Jika masih penasaran dan ada yang
ingin ditanyakan, langsung saja main ke sosial media ku, ya! @idaaroyanii_
Salam Literasi Sampai Mati
Posting Komentar