BELAJAR DARI TERE LIYE
WORKSHOP PENULISAN TERE LIYE
bersama Pesantren Alam Sayang Ibu
Kamis, 22 Desember 2022
Pict: galeri pribadi
Sebelum saya mulai menuliskan apa saja yang saya dapatkan ketika mengikuti workshop penulisan Tere Liye, saya ingin mengucapkan "SELAMAT HARI IBU" untuk seluruh Ibu di bumi ini. Semoga senantiasa selalu diberikan kesehatan dan kekuatan serta kesabaran dan keikhlasan di dalam hatinya.
I love you, mom.
***
Tere Liye, siapa yang tidak kenal dengan sosok penulis hebat ini. Karya-karyanya yang melegenda disuguhkan untuk pembaca dengan pesan-pesan manis dan mendalam. Kali ini, kita akan belajar dari beliau melalui sedikit tulisan saya.
Hari ini saya menghadiri workshop penulisan Tere Liye yang berlangsung di Pesantren Alam Sayang Ibu (Ampenan, Mataram, NTB). Workshop yang berlangsung selama 4 jam dengan rangkaian acara penyampaian materi, tanya jawab, dan penandatanganan buku terasa begitu singkat. Mungkin karena kami sangat menikmati penjelasan beliau yang seru dan menyenangkan.
Sebagai salah satu penggemar dan pengagum karya-karya beliau, saya sangat bersyukur bisa hadir di kesempatan ini. Tere Liye adalah penulis pertama yang saya kenal sejak mulai suka membaca dan belajar menulis. Sosok Tere Liye adalah role model bagi saya dalam memulai perjalanan menulis. Tulisan-tulisan beliau menumbuhkan keinginan di dalam hati saya untuk menjadi seorang penulis juga.
Baiklah, kita sudahi prolog ini sampai disini dan mari kita belajar bersama. Simak baik-baik, ya! Check it out!
TIPS MENULIS TERE LIYE
[Tips pertama]
Topik tulisan bisa apa saja, tapi penulis yang baik bisa menemukan sudut pandang yang spesial.
Problem: Menemukan Ide
Apakah menemukan ide memang sesulit itu?
Tidak! Karena objek apapun bisa menjadi tulisan. Permasalahannya adalah apakah kita bisa melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda atau tidak. Bagaimana maksudnya? Silakan ikuti instruksi ini untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh!
Tulislah sebuah kalimat/paragraf yang di dalamnya terdapat kata "HITAM"! (Ayo tulis, kamu juga harus mencoba langsung supaya bisa merasakan Euphoria workshop ini). Karena peserta workshop diharuskan menulis dan tulisan tersebut dibaca satu persatu oleh Tere Liye.
Tulisan saya:
"Gumpalan awan itu semakin menghitam, sepertinya sebentar lagi hujan. Aku sedikit khawatir akan datang terlambat di workshop jika hujan turun. Keresahan ku pagi ini."
Beberapa tulisan peserta yang lain dibacakan, namun belum ada kesempatan tulisan saya dibaca. Setelah membaca berbagai tulisan dari peserta, Bang Tere Liye berkomentar begini, "berhentilah menggambarkan hitam hanya dengan warna, gelap, kesedihan, dan awan. Coba dengan sudut pandang yang berbeda dan lebih menarik."
Kemudian kami diminta menulis lagi. Masih dengan unsur kata HITAM seperti sebelumnya. Dan untuk kedua kalinya saya menulis begini:
"Aku teringat dengan sebuah judul lagu berjudul Black Swan dari seorang idola yang legenda, sedikit ku baca kisah dibalik perilisannya. Dan setelah lagu itu dirilis, angsa hitam yang dulu menghilang kini muncul kembali. Apakah ini konspirasi semesta atau hanya kebetulan belaka?"
(Aku mau menjelaskan angsa hitam apa yang dimaksud pada tulisan tersebut, tapi pas di sana, aku lupa😆 Dan setelah browsing saat pulang, angsa yang ku maksud adalah Lilit. Jika umumnya angsa berwarna putih, Lilit yang dibebaskan di sebuah danau Macedonia adalah angsa hitam, namun menghilang selama 3 tahun. Namun muncul lagi setelah 4 hari perilisan lagu Black Swan dari BTS pada album Map of The Soul: 7).
Jadi begitu, oke lanjut!
Saya tidak tahu apakah tulisan saya sudah menemukan sudut pandang yang berbeda atau belum. Tapi, saya rasa saya mulai memahami maksudnya. Bagaimana? Kalian sudah cukup paham?
Supaya lebih paham, Bang Tere Liye juga memberikan kami contoh. Bunyi tulisannya begini:
"Hitam selalu datang terlambat. Membuat teman-temannya bosan menunggu, sebal. Maka, suatu hari, mejikuhibiniu memutuskan pergi tanpa hitam. Jadilah sejak hari itu, pelangi tidak memiliki warna hitam."
Bagaimana? Sudah cukup paham tentang sudut pandang yang spesial?
Berpikir dengan sudut pandang yang spesial adalah proses latihan panjang. Dan PR seorang penulis adalah menemukan sudut pandang itu. Tulisan yang berkualitas dari Tere Liye pun bisa hadir dari latihan yang sangat panjang. Beliau sudah menulis selama 25 tahun. Jadi, jangan pernah bosan untuk belajar.
Gantilah pertanyaan: "Aku harus menulis apa?"
Dengan pertanyaan:
"Aku harus menulis dari sudut pandang yang mana?"
"Adalah BOHONG jika kita kehabisan ide tulisan. JANGAN PERNAH PERCAYA. HANYA saja penulis yang baik selalu punya sudut pandang yang spesial."
Sekarang coba buat tulisan yang mengandung kata MUSTERKANOV supaya kamu bisa menemukan sudut pandangmu perlahan.
Begitulah tips pertama yang dibagikan Tere Liye kepada kami. Mari lanjut ke tips berikutnya.
[Tips kedua]
Penulis membutuhkan amunisi, tanpa amunisi penulis tidak bisa menulis.
Saya rasa kalian tidak asing dengan perumpamaan teko dan gelas. Bagaimana perumpamaan itu? Ibarat sebuah teko dan gelas. Jika tidak ada air di dalamnya (teko), maka gelas itu tidak bisa penuh. Begitu juga dengan menulis. Jika tidak ada amunisi di dalam kepala, maka bagaimana bisa kita menuangkannya dalam bentuk tulisan? Karena menulis adalah menumpahkan isi kepala. Oleh karena itu, amunisi sangat penting sebagai bahan tulisan. Sudut pandang yang spesial saja tidak cukup untuk menulis. Sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana mendapatkan amunisi tersebut?
Tere Liye memberikan kami tips begini:
- Banyak-banyak membaca.
- Banyak-banyak ketemu orang lain.
- Banyak-banyak melakukan perjalanan.
[Tips ketiga]
Gaya bahasa adalah kebiasaan, kalimat pertama adalah mudah, dan menyelesaikannya lebih gampang lagi.
Gaya bahasa adalah ciri khas yang dimiliki oleh setiap penulis. Dengan kamu terus menulis, kamu akan menemukan gaya bahasamu sendiri.
Kalimat pertama adalah mudah, begitu kata Tere Liye. Sebagian besar orang (termasuk kita, saya), terkadang bingung bagaimana memulai sebuah tulisan. Namun, kata beliau tulis saja dulu apa yang ada dipikiran. Tulisan kan semuanya, tuangkan! Begitulah cara menulis, tips menulis.
Dan menyelesaikannya lebih gampang lagi. Apakah kamu sering bingung bagaimana membuat ending? Bagaimana menyelesaikan tulisanmu? Maka jawabannya adalah selesaikan saja. Buka tulisanmu, scroll sampai bab terakhir lalu ketik "TAMAT". Gampang bukan? Mungkin ini terdengar sedikit aneh, namun pengalaman beliau menulis novel Hafalan Salat Delisa dikerjakan seperti itu. Bang Tere Liye mengaku kehabisan ide sebelum benar-benar menyelesaikan novel itu. Dan tanpa mengambil pusing, langsung diselesaikan sampai disana.
Tips ketiga ini adalah mantra Tere Liye saat menulis. Menarik bukan?
[Tips keempat]
Mulailah dari tulisan kecil, pendek tapi bertenaga, sederhana tapi bermanfaat.
Bang Tere Liye berkata begini:
"Sepulang dari sini, jangan langsung menulis buku. Mulailah dengan tulisan-tulisan kecil dan sederhana. Sebelum saya menulis novel, saya memulai dengan menulis puisi, opini, karya ilmiah, dan lain-lain."
Sebagai contoh, Bang Tere Liye memberikan sebuah judul "365 hari, tentang temanku". Jadi tulisan ini berisi deskripsi teman-teman yang ada disekitar kita. Kalian bisa mendeskripsikannya satu per satu sampai 365 orang. Satu hari satu teman, jadilah sebuah tulisan.
Jadi, jangan terburu-buru, ya. Mulai saja nulis dari hal-hal kecil dan sederhana. Jadikan menulis sebagai kebiasaan sebelum memulai garap sebuah buku.
[Tips kelima]
Latihan, latihan, dan latihan.
Tips terakhir yang beliau berikan untuk kami adalah latihan. Seperti halnya dengan 'masakan Ibu' yang selalu terasa enak dan nikmat adalah hasil dari pembiasaan. Begitu juga dengan menulis. Untuk menemukan gaya bahasa sendiri, meningkatkan kualitas tulisan, menemukan sudut pandang yang spesial, dan menghasilkan karya yang bagus memerlukan latihan dan proses panjang. Tidak ada tips paling ampuh untuk menulis selain menulis itu sendiri. Jadi ayo mulai nulis dan sering-seringlah berlatih.
1.000 kata/hari, selama 6 bulan, tidak alpha sehari pun. Kalian tidak butuh guru menulis lagi.
Latihan, latihan, dan latihan lah sampai kamu berada pada satu titik "orang lain menganggap tulisanmu bagus" bukan hanya anggapanmu saja.
-Tere Liye-
***
Tambahan
Jika sudah punya naskah?
- Posting di blog, minta komentar teman, keluarga, guru, tukang bakso, penjaga kantin.
- Kirimkan ke media massa, koran, majalah, blog online (bisa dengan email).
- Jika naskah panjang/novel, print naskahnya dan kirimkan ke penerbit: Penerbit Gramedia, Penerbit Republika.
- Tunggu kabar dari mereka (sambil terus menulis, bukan berhenti).
- Menghibur dan menemani
- Bermanfaat
- Menginspirasi
***
Baik, mungkin itu saja yang bisa saya bagikan dalam tulisan ini. Semoga bisa dipahami dan bisa merasakan sedikit Euphoria workshop hari ini. Jika masih ada yang dibingungkan, silakan tinggalkan pertanyaan di kolom komentar atau DM saya di Instagram @idaaroyanii_
Saya juga masih belajar, dan yuk belajar bersama. Terimakasih sudah membaca sampai akhir. See you on the next writing😉
Beberapa dokumentasi workshop:



Posting Komentar